Rabu, 28 November 2018

Gerakan Dakwah Pendidikan Walisongo Dalam Kebudayaan Jawa



GERAKAN DAKWAH PENDIDIKAN WALISONGO DALAM KEBUDAYAAN JAWA

Firda Fasya
 Sejarah Pendidikan Islam, Kelas E, Pendidikan Agama Islam

Abstrak

Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui gerakan dakwah pendidikan yang dilakukan oleh walisongo terhadap kebudayaan masyarakat jawa. Dengan menggunakan metode pencarian data pustaka dan analisis sehingga mendapatkan kesimpulan yang mudah dipahami.  Dakwah pendidikan yang dilakukan walisongo untuk mengembangkan pendidikan di tanah jawa mempunyai peran yang penting. Masyarakat jawa yang dikenal dengan masyarakat yang kental dengan tradisi dan kebudayaannya menjadi tahu apa saja pendidikan yang diajarkan dalam islam. Tradisi dan kebudayaan yang ada dalam masyarakat jawa merupakan peninggalan nenek moyang yang turun menurun, sehingga Tradisi dan kebudayaan mereka sangat kental dan sulit untuk ditinggalkan karena mereka sudah terbiasa dengan hal-hal tersebut.  Akan tetapi walisongo berhasil menyebarkan pendidikan ajaran islam yang bisa diterima dengan baik oleh masyarakat jawa tanpa meninggalkan tradisi dan kebudayaan yang ada, dengan proses yang damai dan mengakulturasikan kebudayaan yang melekat pada masyarakat jawa seperti wayang, tembang-tembang mocopat dan cerita. proses tersebut melalui gerakan-gerakan dakwah yang islami dan sesuai dengan ajaran agama islam.
Kata Kunci: Walisongo, Pendididikan, Kebudayaan.

A.  Pendahuluan

Dalam Al-quran tercantum bagaimana cara berdakwah yang baik dan benar. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Dalam mendakwahkan agama islam. Beliau telah memeberikan contoh yang patut kita teladani dalam gerakan-gerakan  dakwah, baik gerakan dakwah islam maupun gerakan dakwah pendidikan. Seperti pidato atau ceramah baik yang dilakukan beliau sendiri maupun mengutus orang-orang kepercayaan beliau. Walisongo pun melakukan hal yang sama dalam melaksanakan gerakan dakwah terhadap masyarakat jawa yang mempunyai kebudayaan nenek moyang. Gerakan dakwah tersebut mengacu pada pendidikan agama islam sebagaimana yang diajarkan Rasulallah saw. Pada zaman dulu, dengan menggunakan metode pendekatan budaya jawa. Gerakan dakwah walisongo dalam dakwah menggunakan cara-cara damai, terutama melalui prinsip maw’wizhatul hasanah wa mujadalah billati hiya ahsan, yang artinya metode atau cara dalam penyampaian ajaran islam melalui cara dan tutur bahasa yang baik. Gerakan dakwah tersebut berlangsung dengan damai. Walisongo perlahan mengubah kebudayaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama islam menjadi kebudayaan yang sesuai dan tidak menyimpang dengan ajaran agama islam melalui dakwah pendidikan yang damai tanpa adanya kekerasan.[1]
Walisongo sangat sabar dalam melakukan dakwah di jawa, padahal masyarakat jawa sudah menganut kepercayaan tersendiri yaitu kepercayaan Hindu-Budha yang tidak jauh dari ajaran-ajaran nenek moyang.  Perjalan dakwah walisongo diterima di semua kalangan, baik kalangan rendah maupun tinggi, baik saudagar ataupun buruh, baik orang pintar maupun kaya. Menurut Muhammad Mustaqim Mohd Zarif, salah satu kunci kesuksesan dakwah yang dilakukan oleh Walisongo adalah upaya kreatif sekaligus inovatif yang dilakukan dengan kesabaran, ketulusan, keuletan dan kesungguhan dari para Wali dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara, terutama di tanah jawa yang notabennya kental akan kebudayaan. Walisongo berhasil meyebarkan pendidikan islam di tanah jawa.  Keberhasilan dakwah walisongo dapat dilihat dari banyaknya lembaga pendidikan ataupun majlis pendidikan yang memakai nama walisongo ataupun memakai nama-nama walisongo dan juga ziarah ke makam para wali.[2]
Gerakan dakwah walisongo dalam pendidikan islam di tanah jawa menjadikan masyaraakat jawa lebih mengenal apa itu islam? Apa ajaran yang ada dalam pendidikan islam? Sehingga masyarakat tidak terjerumus dalam hal-hal yang menyimpang dan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulallah melalui dakwah pendidikan yang dilakukan oleh walisongo.
Pendidikan adalah sesuatu yang  dibutuhkan bagi manusia. Dengan pendidikan manusia dapat bertahan hidup. Dalam islam kedudukan pendidikan sangatlah penting dan dinomor satukan. Hal ini bisa dilihat dalam Al-Quran dan Hadits, yang banyak menjelaskan tentang pentingnya pendidkan bagi kehidupan manusia supaya bisa bertahan hidup dan menjalani kehidupan sebagai hamba Allah. Banyak ayat-ayat al-quran yang menerangkan  tentang pendidikan bagi manusia, seperti ayat yang menerangkan tentang kekuatan akal, menuntut ilmu dan memperdalam pengetahuan.[3]Pendidikan islam adalah usaha yang dilakukan oleh pendidik muslim kepada  peserta didik untuk mengembangkan potensi baik rohaniah maupun jasmaniyah dalam meningkatkan ketaqwaan, iman, pengetahuan baik agama maupun umum untuk mancapaik kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendidikan islam juga mengajarkan tentang perilaku seseorang untuk menjadi orang yang berakhlaqul karimah sesuai dengan ajaran Rosulallah swa., mengajarkan bagaimana ibadah yang sesuai dengan ajaran islam, dan mengajarkan ajaran-ajaran sesuai dengan syari’at islam.[4] Oleh karena itu, dakwah pendidikan walisongo di tanah jawa merupakan suatu gerakan dakwah yang mengenalkan pendidkan islam dan pentingnya pendidikan islam.
Melaksanakan dakwah seperti apa yang dilakukan oleh walisongo merupakan suatu proses yang cukup penting untuk menjadikan masyarakat jawa mengerti tentang pendidikan islam. Walisongo pun berhasil menyebarkan dakwah islam yang rohmatalill’alamin yang masih dijadikan acuan ataupun teladan masyarakat jawa. Tulisan ini akan menelusuri bagaimana gerakan dakwah pendidikan yang dilakukan oleh walisongo dalam kebudayaan jawa dengan metode pengumpulan daftar pustaka.   

B.   Pembahasan


1.    Dakwah Pendidikan Walisongo
Menurut sejarah keyakinan orang jawa, yang pertama kali menyiarkan agama islam di tanah jawa adalah wali. Wali ialah seseorang yang mempunyai kemampuan yang dalam, mempunyai kekuatan yang bersifat ghoib. Kata Wali berasal dari Bahasa arab, yang berarti “orang yang dijaga kemaksiatannya oleh Allah. Seorang wali mendapat ilham berupa cahaya yang menyinari jiwanya dan memiliki kekuatan yang luar biasa, hal tersebut biasanya disebut keramat. Wali kependekan dari Waliyullah artinya orang yang mencintai dan dicintai Allah. Ada yang mengartikan Wali adalah kedekatan. Sehingga Waliyullah berarti orang yang kedudukannya dekat dengan Allah swt.. Wali-wali yang terkenal sebagai penyiar agama islam yang pertama di Jawa, berjumlah sembilan dan biasa disebut dengan Walisongo. Songo berasal dari bahasa Jawa yang berarti Sembilan. Ada juga yang berpendapat bahwa kata Songo merupakan kerancuan dari pengucapan kata Sana yang dalam bahasa Jawa berhubungan dengan tempat tertentu. Jadi, Wali Songo berarti Wali yang jumlahnya sembilan orang. Dan dapat diartikan juga dengan Wali bagi suatu tempat tertentu (Walisana). Kata Sana berasal dari berasal dari bahasa Arab Tsana yang berarti terpuji. Sehingga Wali Songo berarti Wali yang terpuji. Karena hal-hal tersebut hanya terjadi pada orang-orang tertentu, atau bisa dikatakan orang-orang pilihan Allah.Walisongo terdiri dari:
a.       Maulana Malik Ibrahim (Syekh Maghribi)
b.      Sunan Ampel (Raden Rahmat)
c.       Sunan Giri (Raden Paku)
d.      Sunan Bonang (Maulana Makdum Ibrahim)
e.       Sunan Kalijaga (Raden Mas Syahid)
f.       Sunan Kudus (Syeikh Ja’far Sodiq)
g.      Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)
h.      Sunan Drajat (Syarifuddin)
i.        Sunan Muria (Raden Umar Said)
Sampai sekarang masyarakat jawa masih mempercayai tentang ajaran agama islam yang dibawa oleh walisongo.[5]
Walisongo melakukan dakwah di jawa dengan melakkan pendekatan. Dakwah adalah mengajak ataupun mengajarkan  pihak lain agar  mengikuti ajaran yang dianutnya, baik berlangsung secara paksa maupun keinginan sendiri. Dakwah yang dilakukan walisongo di jawa adalah dakwah yang menyatukan ajaran keagamaan dengan budaya yang dimiliki masyarakat jawa. Pola dakwah Walisongo berdasarkan pada pola pengelolaan dan pengembangan budaya masyarakat. Dalam pengembangan kebudayaan walisongo memasukkan nilai-nilai yang umum atau universal, kearifan lokal, dan ajaran Islam yang rahmatan lil’alamiin, supaya tetap sejalan dengan ajaran agama islam dan kebudayaan masyarakat jawa. Tujuan dakwah adalah membentuk dan meningkatkan karakter kepribadian yang baik atau berakhlakul karimah dan dapat membentuk keseimbangan unsur jiwa baik rohani maupun jasmani sebagai manusia yang berdimensi fisik, psikis, sosial, dan spiritual.[6]
Dakwah yang dilakukan oleh walisongo juga mencakup tentang pendidikan, pendidikan yang sesuia dengan ajaran agama islam sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulallah saw.. Dalam Dakwah pendidikan  di Jawa walisongo terbagi menjadi dua kubu, yakni yang pertama kubu yang menerapkan metode pendekatan non kompromis. Non kompromis artinya bahwa ajaran Islam yang didakwahkan walisongo kepada masyarakat Jawa benar-benar sesuai dengan ajaran Islam yang telah didakwahkan Nabi Muhammad saw. kepada masyarakat Arab pada zaman dahulu.  Pendekatan kompromis  dipelopori  oleh Maulana Malik Ibrahim, kemudian Sunan Ampel dan diteruskan Sunan Giri. Kedua, kubu yang menerapkan metode pendekatan kompromis yaitu berkerja sama dengan masyarakat jawa. Pendekatan kompromis dipelopori oleh Sunan Kalijaga. Ajaran islam yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga berbau sinkretisme (memadukan kebudayaan dengan ajaran islam).
Untuk menelaah ajaran Walisongo bisa menggunakan Sumber dokumen asli, yaitu Het Book van Mbonang dan kropak ferrara. Het Book Van Mbonang berisi tentang wejangan Sunan Bonang, naskah aslinya terdapat di museum Leiden, Belanda sedangkan Kropak Ferrara adalah rekaman yang merekam sarasehan Wali Songo di Giri Kedaton Gresik, naskah aslinya terdapat di perpustakaan umum Ariostea di Ferrara, Italia. Dalam Het Book van Mbonang menjelaskan inti ajaran Sunan Bonang yaitu, perlunya setia dengan syari'at, ibadah harus bebas dari bid'ah, meningkatkan iman dan taqwa melalui thoriqot  sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw., dan berbuat baik sesama manusia sesuai dengan apa yang diajarkan dalam Al-Qur’an. Kropak Ferrara berisi tentang pentingnya untuk meninggalkan tradisi menyembah berhala, membuat sesaji dan sebagainya seperti apa yang terjadi dalam masyarakat Jawa sebelumnya yang masih menganut ajaran-ajaran nenek moyang,. Kropak Ferrara juga mengingatkan kepada para mu'alaf untuk yaqin kepada ajaran agama islam dan tidak jatuh kembali ke dalam kepercayaan lama, menghindari bid’ah, harus mantap, teguh dan tenang jiwanya, jangan  mudah terbawa godaan iblis dan setan. Perbuatan yang harus dilaksanakan orang Islam adalah menunaikan rukun Islam (bersyahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji) secara benar dan sungguh-sungguh sesuai dengan syari’at. Walisongo menerangkan bahwasannya dalam iman dan ilmu pengetahuan seorang muslim akan terbuka hatinya dan bisa menghayati keimanannya terhadap Allah dan juga akan mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an. Seorang muslim yang beramal tanpa disertai ilmu, maka tidak akan bertemu dengan kebahagiaan, dan seluruh perbuatannya akan rusak karena segala sesuatu pasti ada ilmunya.
Setelah peran Sunan Giri dan Sunan Bonang tidak lagi menonjol, kemudian tampillah Sunan Kalijogo. Sunan kalijogo menerapakn pendekatan yang memadukan tasauf mistik dengan fikih syara'. Alasannya, kalau langsung belajar tasauf tidak didasari dengan fikih, kemungkinan seseorang akan menjadi zindiq karena mendekati Allah SWT dengan meninggalkan syari'at tanpa mempelajari fikih terlebih dahulu. Sebaliknya, mempelajari syari'at tanpa tasauf, otak hanya dipenuhi dengan kajian halal-haram, sedangkan jiwa tetap kosong dan kasar. Ajaran Wali Songo setelah Sunan Giri dan Sunan Bonang, cenderung menjauhi kemurnian ajaran Islam, dan lebih bersifat memadukan dengan kebudayaan sebelumnya dengan nilai agama-agama terdahulu.
Dalam dakwah pendidikan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri dan Sunan Ampel membangun sebuah perguruan di tempat tinggalnya. Tapi lain halnya dengan Sunan Kalijaga yang tidak membangun perguruan di tempat tinggalnya. Sunan Kalijaga mengajarkan ajaran islam dengan mengembara ke segala penjuru tanah Jawa. Sunan Kalijaga merupakan pimpinan golongan orang islam yang tidak meragukan adanya Tuhan selain Allah swt. dan ibadah yang dilakukan semata hanya karena Allah dengan melaksanaakan Syari’at secara Murni. Golongan tersebut biasa disebut Golongan Abangan. Selain Golongan abangan ada juga Golongan Putihan, yaitu Golongan yang tetap setia malkasanakan syari’at secara murni yang dipelopori oleh Sunan Ampel dan Sunan Giri. Dalam dakwahnya Golongan Putih tidak menggunakan Kesenian, sedangkan Golongan Abangan menggunakan Kesenian. Golongan abangan menggunakan sarana kesenian tembang-tembang dan wayang. Penganut golongan abangan beranggapan bahwa Sunan Kalijogo menempuh strategi kompromi untuk menghilangkan kebudayaan orang Jawa yang masih terikat kuat dengan agama Hindu, Budha atau Animisme yang selalu menganut pada nenek moyang. Suanan kalijaga ingin membuat masyarakat Jawa mau menmpelajari pendidikan islam yang dibawa olehnya. Sedangkan golongan putihan beranggapan dengan adanya kompromi tersebut masyarakat jawa mencampur adukkan nilai-nilai kebudayaan dengan ajaran islam sehingga tercampur kebudayaan lama sampai sekarang. Misalnya, kegitana yang dilakukan pada malam jum’at. Pada kebudayaan masyarakat Jawa dulu terbiasa membakar kemenyan dan dirubah dengan membaca Surat yasin dengan ajaran dan aturan tertentu yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad saw..[7]
Dakwah pendidikan yang dilakukan oleh Walisongo di Tanah Jawa menggunakan beberapa metode, yaitu:
1)      Metode Al-Hikmah
Cara ini digunakan untuk menghadapi masyarakat-masyarakat awam. Cara ini dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus. Walapun terkadang cara ini terlihat menonjol sehingga banyak masyarkata yang tertarik, karena dengan ketidak tahuan masyarakat terhadap pendidikan islam menjadikan masyarakat tertarik. Dalam dakwah pendidikan  Sunan Kalijaga menggunakan gamelan Sekaten atau Syahadatayn (kunci keislaman, yaitu Dua kalimat Syahadat). Kegiatan sekaten dilakukan di Masjid Agung, dalam kegiatan ini Sunan Kalijaga memukul gamelan dengan tembang-tembang yang saat itu masi terkenal dalamkebudayaan Jawa. Kegiatan ini dilakukan menjelang peringatan maulid nabi Muhammad saw. Selain itu Sunan Kalijaga Juga menggunakan kesenian Wayang yang menceritakan tentang ajaran ketauhidan. Cara tersebut juga digunakan oleh Sunan Kudus. Wali-wali yang lain juga menggunakan metode ini, diantaranya: Sunan Ampel yang menyusun tentang aturan-aturan syari’at bagi masyarakat Jawa. Sunan Gresik yang mengubah motif , pola dal lurik pada batik dan perkengkapan kuda.
2)      Metode Tadaruj atau tarbiyatul ummah
Cara digunakan untuk mengetahui pengelompokan pendidikan yang dimiliki masyarakat jawa. Agar dakwah pendidikan  ajaran Islam dapat dengan o menempuh jalan dakwah secara merata dengan mendasarkan pokok pikiran pada li kulli maqam maqam, tidak semuanya disamakan karena pemikiran masyarakat berbeda-beda.  Cara penyampaian dakwah pendidikan ini melalui pesantren dan lembaga pendidikan lainnya.[8] Pesantren adalah sebuah wilayah yang khusus yang mempunyai ciri khas tersendiri dari wilayah lain. Unsur-unsur pesantren diantaranya; kiai, santri, masjid, pondok dan pengajaran kitab-kitab klasik yang menjadi bahan ajaran dalam pesantren.[9] Dalam lingkungan pesantrwn jugam menggajarkan pendidikan untuk umum, seperti masalah fikih dan syari’at.[10]
3)      Dakwah Pembentukan dan Penanaman Kader, Serta Penyebaran Juru Dakwah ke berbagai Daerah
Cara ini dalah dengan mengutus atau mengkader seseorang untuk berdakwah di Jawa, karena Jawa adalah wilayah yang masih jauh dari pendidikan islam. Contohnya Sunan Kalijaga mengkader Kiai Cede Adipati Pandanarang untuk berhijrah ke Tembayat. Sunan Ampel menyuruh Raden Fatah berhijrah ke hutan Bintara.
Dalam berdakwah para wali mempunyai siasat yang bijaksana. Walisongo membuat sistem pendidikan  denga pendekatan psikologis. Banyak bukti yang tersisa dan dapat dilihat sampai sekarang tentang adanya dakwah pendidikan walisongo di Jawa yang dilakukan dengan Damai tanpa adanya perpecahan. Selain menggunakan pendekatan psikologis walisongo juga menggunakan pendekatan yang didukung dengan media audio dan visual.  Banyak bukti yang menunjukkan bahwa para wali menguasi ilmu-ilmu pendidikan seperti ilmu fikih, syari’at, tasawuf , mistik dan lain sebagainya. Selain itu walisongo juga menguasai masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat. Masalah-masalah tersebut antara lain  tercakup
dalam tujuh lapangan kehidupan seperti kejasmanian dan kesehatan, tata kehidupan dan kemakmuran masyarakat, politik dan kenegaraan, pendidikan, pengetahuan,  dan pengajaran, kebudayaan, kesenian, hiburan, dan kegiatan lain  yang bermanfaat, misalnya khusus dalam kegiatan keagamaan seperti peribadatan, akidah, mistik dan lain sebagainya.[11]

2.    Dakwah Pendidikan Walisongo Dalam Kebudayaan Jawa
Banyak yang membahas tentang apa itu budaya.  A.L. Kroeber dan C. Kluckhohn menghimpun sebanyak 160 lebih mengenai definisi kebudayaan tersebut dalam buku mereka berjudul Culture, a Critical Review of Concepts and Definitions.
Koentjaraningrat menyatakan, kata budaya Secara etimologis  berasal dari kata budhayah yaitu  bahasa Sanskerta, yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan dapat diartikan dengan hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kemudian Koentjaraningrat  menyatakan bahwa kebudayaan
paling sedikit mempunyai tiga wujud, yaitu:
a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma peraturan dan sebagainya.
b. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas, kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
c. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Berdasarkan pengertian tentang budaya yang demikian, maka setiap individu, komunitas ataupun  masyarakat bisa menciptakan budaya melalui kreasinya. Kreasi yang diciptakan dapat dilakukan secara berulang dan bisa menjadi kesepakatan yang dapat dijadikan budaya.[12] Berdasarkan pendapat Koentjaraningrat ini, kebudayaan diperoleh dari proses belajar yang dilakukan manusia dalam kehidupan masyarakat. Karena kebudayaan tidak datang secara tiba-tiba melainkan bertahap. Adanya kebudayaan merupakan suatu usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selain  diciptakan sebagai alat untuk mempertahankan dan sekaligus mencapai kesempurnaan hidup manusia. Tiga gejala dalam Kebudayaan, yaitu ideas, activities, dan artifacts. Gejala kebudayaan yang termasuk kelompok ideas adalah suatu gejala yang masih terdapat di dalam pikiran manusia yang berupa ide-ide, pendapat maupun gagasan manusia itu sendiri. Sedangkan gejala kebudayaan yang termasuk kelompok actifities adalah tindakan-tindakan manusia sebagai tindak lanjut dari apa yang terdapat dalam alam pikir manusia, atau bisa dikatakan lanjutan dari ideas. Gejala kebudayaan yang ketiga adalah artifacts, yaitu kebudayaan yang bersifat kebendaan atau kebudayaan fisik atau kebudayaan material atau kebudayaan yang dapat dilihat yang merupakan hasil karya manusia yang berupa benda dengan berbagai sifatnya. Kebudayaan sebagai suatu sistem memiliki unsur-unsur yang bersifat universal atau menyeluruh. Menurut Koentjaraningrat  unsur-unsur kebudayaan yang diklasifikasikan menjadi:
1)  Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (sepeti; pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, dan sebagainya).
2)  Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi (seperti; Pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi, dan sebagainya).
3)  Sistem masyarakat (seperti; sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
4)  Bahasa (lisan maupun tulisan).
5)  Kesenian (seperti; seni rupa, seni suara, seni gerak, dan sebagainya).
6) Sistem pengetahuan.
7)  Religi atau keagamaan.
Kebudayaan merupakan kelakuan atau kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang dan diajarkan sebagai sesuatu yang baik dan patut untuk diturunkan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Secara umum kebudayaan identik dengan kesenian yaitu seni tari, seni sastra, seni suara, seni pahat dan banyak seni  lainnya. Kesenian adalah  salah satu unsur dari kebudayaan yang merupakan bentuk aktifitas manusia dalam mengungkapkan sesuatu melalui media ataupun melalui nilai-nilai kehidupan yang berkebudayaan. Kebudayaan juga mempunyai nilai-nilai tertentu sebagai tujuan dari adanya budaya tersebut. Nilai-nilai tersebut terdiri dari nilai moral, nilai kehidupan dan nilai-nilai kebudayaan.[13]
Ditengah-tengah kondisi masyarakat yang telah memeiliki karakter dan latar belakang sosial budaya, psikologis, dan kondisi politik pemerintahan yang menganut paham animisme, menjadikan pertimbangan Walisongo untuk menentukan strategi dan metode dakwah pendidikan yang harus dilakukan di tanah Jawa. Walisongo memilih Metode yang fleksibel dan mampu diterima oleh masyarakat dengan baik tanpa adanya paksaan. Dakwah tidak hanya dilakukan secara lisan, tetapi juga dalam segala keadaan, misalnya melalui akulturasi budaya yang menghasilkan kesenian wayang yang ceritanya bernuansa Islam, tembang-tembang Jawa (seperti; Lir Ilir, Cublak-cublak Suweng), tradisi tahlilan, mitoni, slametan (bancakan). Walisongo tidak mempermasalahkan adanya kebudayaan yang tidak sesuai dengan islam. Walisongo melakukan pendekatan supaya masyarakat tidak menjauh dan menerima dakwa pendidikan Walisongo dengan baik. Di sinilah sikap arif yang dimiliki Walisongo untuk menerima realitas kondisi psikologis dan sosial masyarakat sebagai sebuah bentuk kesadaran bahwa setiap individu atau suatu komunitas memiliki karakter yang tidak lepas dari proses pembentukan lingkungannya. Tidak ada pemaksaan untuk mempelajari agama Islam, tetapi dengan kesadaran diri melihat ajaran Islam yang dapat membentuk karakter kepribadian pemeluknya yang memiliki sikap dan perilaku shaleh baik secara pribadi maupun sosial.[14]
Gerakan Dakwah pendidikan Walisongo dilakukan dengan penyiraian yang damai, termasuk dalam menghadapi kebudayaan masyarakat Jawa. Karena masyarakat Jawa Sudah memiliki kepercayaan, yaitu animisme dan dinamisme.
Walisongo melakukan Dakwah Pendiikan lewat Asimilasi Pendidikan. Usaha yang dilakukan Walisongo di tanah Jawa adalah dengan mengembangkan pendidikan dengan model dukuh, asrama, dan padepokan dalam bentuk pesantren-pesantren. Juga dengan model pendidikan yang terbuka bagi masyarakat yaitu, pendidikan terbuka di Langgar, Tajuk, masjid-masjid dan permainan anak-anak. Menurut Zaini Achmad Syis konteks pendidikan pesantren yang ada di Nusantara pada dasarnya pengambilalihan atau pengubahan bentuk lembaga pendidikan sistem biara dan asrama yang dipakai oleh para pendeta dan bhiksu dalam belajar mengajar. Hal tersebut menjadi penyebab pondok pesantren berasal dari Hindu-Budha. Menurut Clifford Geertz pondok pesantren itu mengingatkan orang pada biara, tetapi santri bukanlah para pendeta. Salah satu Proses Dakwah yang dilakukan walisongo dalam dunia pendidikan adalah dengan mengambil alih lembaga Syiwa-Budha yang disebut ‘asrama” atau “dukuh” yang diganti dengan format ajaran islam menjadi pondok pesantren.[15]
Dari metode-metode dakwah para wali, dapat dinyatakan bahwa para wali yang dalam usahanya mengislamkan masyarakat Jawa ialah dengan berusaha mengubah hal-hal lama yang tidak bersesuaian tanpa menghapusnya hanya saja mengubah agar sesuai dengan ajaran islam.[16]
dengan Islam dengan melalui pendekatan budaya
Selain dakwah lewat asimilasi pendidikan walisongo juga melakukan dakwah lewat seni dan budaya. Seni pertunjukan menjadi sarana komunikasi dan perubahan informasi pada masyarakat jawa. Dengan pertunjukan seni Walisongo menyampaikan berbagai Nilai, paham, konsep, gagasan, pandangan, dan ide yang bermanfaat dan tentunya bersumber pada agama islam.
Menurut Prof. K.H.R. Moh Adnan, walisongo adalah semacam lembaga dakwah yang berisi tokoh-tokoh masyarakat yang ahli dalam ajaran islam yang berada ditengah masyarakat jawa. Menurut Prof. K.H.R. Moh Adnan, walisongo mempunyai tugas sendiri-sendiri dalam mengubah dan menyampaikan nilai-nilai dan sistem sosial budaya masyarakat sebagai berikut:
a)      Sunan Ampel membuat Peraturan-peraturan yang islami untuk masyarakat Jawa.
b)      Raja Pandhita di Gresik merancang pola kain batik, tenun lurik dan perlengkapan kuda.
c)      Susuhunan Majagung Mengajarkan mengola berbagai jenis masakan, lauk-pauk, memperbarui alat pertanian dan membuat gerabah.
d)     Sunan Gunung jati di cirebon mengajarkan tata cara berdo’a dan membuat mantra, tata cara pengobatan, serta tata cara membuka hutan. Supaya masyarakat tidak mendapatkan gangguan dari makhluk lain.
e)      Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan yang baru dengan mengatur perhitungan kalender siklus perubahan hari, bilan tahun dengan menyesuaikan pawokan, dan membuat pembukaan jalan.
f)       Sunan Bonang mengajarkan ilmu suluk, membuat gamelan mengubah irama gamelan.
g)      Sunan Derajat, mengajarkan tata cara membangun rumahn ynag baik, membuat alat-alat yang biasanya digunakan untuk memikul (seperti tandu dan joli).
h)      Sunan Kudus, merancang pekerjaann peleburan, membuat keris, melengkapi peralatan pande besi (pembuat besi), kerajinan emas, dan membuat peraturan undang-undanghingga sistem peradilan yang diperuntukkan bagi masyarkat Jawa.

Gerakan dakwah pendidikan yang dilakuka oleh walisongo dalam kebudayaan tanah jawa diantaranya:
1)      Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Ampel
Usaha yang dilakukan Sunan Ampel adalah dengan cara membentuk kekerabatan baru melalui perkawinan. Lewat perkawinan bisa saking belajar tentang ajaran islam.  Didalam Babad Tanah Djawi digambarkan tentang sistem pendidikan yang diajarkan oleh Sunan Ampel yaitu membaca Al-Qur’an, kitab-kitab tentang ilmu syari’at, tarekat, dan ilmu hakikat, baiklafal maupun makna. Raden Rahmat juga mencontohkan kehidupan yang zuhud dan melakukan riyadhah.  Usaha yang dilakukan Sunan Ampel melalui pendekatan kekeluargaan dan pengajaran yang biak bisa diterima oleh masyarakat Jawa.
2)      Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Giri
Dalam usaha dakwahnya, Sunan Giri mengembangkan sistem Pesantren yang diikuti oleh santri-santri dari berbagai daerah di Nusantara. Selain sistem pendidikan pesantern Sunan Giri juga mengembangkan sistem pendidikan yang terbuka engan menciptakan permainan anak-anak seperti jelungan, jamuran,gendilgerit, san tembang-tembang permainan anak-anak seperti padang bulan, jor, gula gant, dan cublek-cublek suweng. Permianan Cublek-cublek suweng pun masih digunakan anak-anak zaman sekarang untuk bernyani dalam bermaian. Sunan Giri pun menciptakan beberapa tembang tengahan dengan metrum Asmaradhana dan Pucung yang sangat digemari masyarakat karena berisi ajaran rohani yang tinggi dan tidak meninggalakan atau tidak jauh dari kebudayaan masyarakat jawa sebelumnya. Sunan Giri juga melakukan dakwah dengan pertunjukan wayang. R.M. sajid dalam Bau Warna Wajangan menyatakan bahwa Sunan Giri memiliki peran yang sangat penting dalam melengkapi hiasan-hiasan wayang seperti gelat bahu (gelang hias dipangkal lengan), gelang, keroncongan (gelang kaki), anthing telinga, badong (hiasan pada punggung), zamanag (hiasan kepala) dan lain-lain. Selain itu Sunan Giri juga mengarang lakon-lakon wayang lengkap dengan suluknya. Dengan wayang Sunan giri melakukan dakwah pendidikan dimana ceritanya berisi tentang ajaran islam.
3)      Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Bonang
Sunan bonang dalam dakwahnya diketahui dengan menjalankan pendekatan yang lebih mengarah pada seni dan budaya. Sunan Bonang dikenal sebagai dalang,  karena beliau pandai dalam memainkan pertunjukan wayang yang digunakan untuk berdakwah dan mengajarkan pendidikan-pendidikan islam. Beliau juga menggunakan Gamelan sebagai sarana untuk berdakwah. Gamelan tersebut dinamakan Bonang.bonang adalah sejenis alat musik dari bahan kuningan berbentuk bulat dengan tonjolan dibagian tengahnya, mirip dengan gong kecil. Pada masa alampau alat musik ini selain digunakan untuk gamelan pengeiring pertunjukan wayang, juga digunakan oleh aparat desa untuk mengumpulkan warga dalam rangka penyampaian wara-wara dari pemerimntah kepada penduduk. Sunan Bonang juga dikenal sebagai dalang yang mahir dalam membawakan pertunjukan wayang, lewat pagelaran tersebut Sunan Bonang menyebarkan ajaran-ajaran rohani. Prof. K.H.R. mohammad Adnan, Sunan Bonang juga meneliti pengembangan ilmu pengetahuan dan menyempurnakan susunan gamelan atau menggubah irama lagu-lagu. Salah satu gubahan dari Sunan Bonang dalam tembang macapat yang termasyhur adalah tembang kidung Bonang  yang disampaikan dalam pupuh Durma, Sebagai berikut.

Ana kidung kidunge Paneran/ ara namun na sakit/ tekane sin sabran /rupane aran aban/ kapunah in rasul muji/ panakit ilan/ kari waluya jati//

Kapayunan in luhur haras/ anirnaken paksi (bale ban) kan teka min sabran/ walan lelembin kurikan/ tikus celen uti-uti/ lolodoh walan/ saken ama suminkir//

Pager wetan Jabrail nulak/ sakehe inkan mandi/ lelenek tutukan/ rujek wewerjit minmang/ kapunah in puji tasbik/ bruwan aiyan/ pada adoh tan wani//

Pager kidul Mikail anulak/ in lara saketi/ senkel windu benan/ memesus uban-uban/ lara roga pada balik/ enek apulan/ in genahira lami//

Pager kulon Nijrail anulak/ guna trahnana weri (sanyan)/ teluh kunan-kunan/ desti lan japa mantra/ suwangi mula kabalik/marin guriyan/ ira in biru tasik//

Pager lor Israpil nulak kala/ in kala Kalasekti/ pejuh wurun kama/ lalis lan kamaman gerah/ oyod minman tali rawi/ ambintan kala/ teluh alas suminkir//

Lelemek esor walunsunanin/ naga pameluk bumi/ anulak muriyan/ mudidi(n) pada wenkan/ apikukuh lenabu kunin/ kan andudulan/ bale naras tumawin//

Isi dari Kidung Bonang mirip dengan Kidung Rumeksa Ing Wengi karya Sunan kalijaga.
4)      Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Kalijaga
Dalam menyampaikan dakwah pendidikan Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai sarana, karena wayang sangat digemari oleh masyarakat Jawa (masyarakat jawa yang masih menganut kepercayaan lama). Dengan kemampuan yang lihai Sunan Kalijaga menyampaikan pendidikan ajaran islam. Masyarakat Jawa bagian barat mengenal Sunan Kalijaga Sebagai dalang yang mempunyai banyak nama atau nama Samaran. Di daerah pajajaran dikenal dengan Ki Dalang Sida Brangti, Di daerah tegal dikenal dengan dalang barongan dengan nama Ki Dalang Bengkok. Di daerah Purbalingga dikenal sebagai dalang topeng dengan nama KI Dalang Kumendung, sedangkan di majapahit dikenal dengan nama Ki Unehan. Sunan klijaga berkeliling dari wilayah Pajajaran hingga wilayah Majapahit. Menurut Primbon K.H.R. Mohammad Adnan, Sunan Kalijaga menciptakan lagu sekar ageng dan sekar alit serta menyempurnakaan irama gending-gending seperti apa yang dilakukan oleh Sunan Bonang. [17]
Sunan kalijaga juga telah menjadikan Wayang kulit sebagai media atau sarana dakwah pendidikan latihan rohani atau Riyadlah, dengan menampilkan tokoh-tokoh pewayangan yang menjadi favorit rakyat, ke dalam pewayangan hampir keseluruhan kisahnya dipentaskan cerita dan dialog-dialog tentang tashawuf dan akhlakul karimah, sebabnya yang dituju adalah pemeluk Hindu ataupun Budha, yang keseluruhan ajarannya berpusat pada ajaran kebatinan. Justru karena yang dihadapi adalah orang-orang yang mengutamakan ilmu tentang kebatinan dalam beragama (Hindu dan Budha) maka Sunan Kalijaga sengaja mengisi unsur-unsur tashawuf dan akhlaqulkarimah. Sunan Kalijaga juga menciptakam pewayangan yang sangat dekat dengan masyarakat Jawa adalah diciptakannya tokoh Punakawan dalam cerita pewayangan yang terdiri atas Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong, adalah tokoh-tokoh yang selalu ditunggu-tunggu dalam setiap pergelaran Wayang di Jawa. Sebenarnya tokoh-tokoh ini tidak ditemui pada cerita Wayang asli yang berasal dari India. Para tokoh Punakawan dibuat sedemikian rupa mendekati kondisi masyarakat Jawa yang beraneka ragam. Hal ini membuktikan bahwa kreasi Wayang kulit Sunan Kalijaga lebih inovatif dan lebih menarik karena lebih disesuaikan dengan kebudayaan dan kondisi masyarakat Jawa. Ada beberapa kidung yang berhasil digubah Sunan Kalijaga diantaranya adalah Kidung Rumekso Ing Wengi. Merupakan sebuah tembang yang melambangkan pengharapan di malam hari agar senantiasa terjaga dari segala bentuk pengaruh-pengaruh negatif. Ini adalah salah satu perwujudan doa yang sama halnya dengan doa dalam Islam pada umumnya, namun disusun dengan bahasa Jawa agar lebih dapat diterima dengan alam pikiran masyarakat Jawa. Bagi orang Jawa tidak mudah mengucapkan dan memahami doa dalam bahasa Arab, lalu Sunan Kalijaga menyusun doa Rumekso Ing Wengi dalam bahasa Jawa. Bentuk kalimat dan gaya bahasa kidung disampaikan sesuai dengan alam pikiran Jawa yang dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Jawa.  Pada masyarakat Jawa, masih juga dijumpai nasehat atau wejangan yang tersimpul dalam tembang dhandhanggula, pesan ini menunjukkan bahwa manusia hidup di dunia hanya sementara karena suatu saat pasti akan kembali kepada sang Tuhan. Sunan Kalijaga yaitu lagu Lir-ilir dan Gundul-Gundul Pacul. Lagu Gundul-gundul Pacul dapat dikatakan sebuah lagu yang sangat merakyat, hampir semua masyarakat Jawa mengenal lagu ini. Selain dinyanyikan dengan nada ceria, lagu ini juga mengandung nasehat bagi setiap manusia dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Lagu Gundul-gundul Pacul ini diyakini juga sebagai lagu yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga, begitulah unsur dakwah yang berhasil dimasukkan ke dalam salah satu bentuk kegemaran masyarakat, yakni dengan lagu.[18] Syair lagu gundul-gundul pacul tersebut adalah sebagai berikut:
Gundhul gundhul pacul cul,
Gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul,
Gembelengan
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
“Kepala botak tanpa rambut ibarat cangkul
Geleng-geleng
Membawa bakul
Geleng-geleng
Bakulnya jatuh, nasinya tumpah berantakan di jalan
Bakulnya jatuh, nasinya tumpah berantakan di jalan”

Menurut Lusia, fungsi yang ada pada tembang gundul-gundu pacul adalah fungsi pendidikan. Yaitu menggambarkan seorang anak yang gundul, nakal, bandel, angkuh dan tidak bertanggung jawab. Dia tidak dapat membeda-bedakan hal-hal yang baik dan buruk. Dia beranggapan bahwa dirinya adalah orang yang paling benar, paling bisa dan paling pintar, sehingga dia bersikap gembelengan, yakni sombong dan tak tahu diri hanya memikirkan diri sendiri. Apabila dipercaya untuk memegang amanah yang menyangkut kehidupan orang banyak, dia tetap bersikap tidak peduli. Akibat dari kesombongan dan keangkuhannya itu, maka kesejahteraan dan keadilan yang semestinya didapatkan, jadi hancur berantakan. Syair tembang tersebut mengandung nilai pendidikan agar manusia tidak boleh sombong. Seperti yang diceritakan pada lagu tersebut, orang yang sombong, angkuh dan ceroboh akan membawa pada kehancuran dan kegagalan. Untuk itu, jika kita menjadi pemimpin yang diberi amanah dan tanggung jawab agar mampu mengemban amanah tersebut sebaik-baiknya, sehingga mewujud pada kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.[19] Lagu tersebut memiliki makna filosofi yang sangat besar bagi kehidupan yang intinya adalah menggambarkan keagungan ajaran Islam serta mengandung nasehat-nasehat kehidupan. Sunan Kalija juga menciptakan Lagu Lir-ilir, lagu ini menjadi alat dakwah bagi Sunan Kalijaga dalam menyampaikan ajaran Islam.[20] Lagu lir ilir dinyanyikan dengan penuh penghayatan. Syairnya adalah sebagai berikut:
Lir ilir, lir ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Cah angon cah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomono, jlumatono
Kanggo sebo mengko sore
Mumpung Padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo sorako, sorak iyo!
“Bangunlah, bangunlah!
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau
Bagaikan pengantin baru
Anak gembala, anak gembala
Panjatlah (pohon) belimbing itu!
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat
Untuk membasuh pakaianmu
Pakaianmu, pakaianmu,
Terkoyak-koyak di bagian samping
Jahitlah, benahilah!
Untuk menghadap nanti sore mumpung bulan bersinar terang
Mumpung banyak waktu uang
Bersoraklah dengan sorakan Iya!!”

Menurut Lusia, fungsi yang terdapat pada tembang lir-ilir ini adalah fungsi religius. Tembang ini memiliki pesan bahwa sebagai umat manusia, diharapkan mampu bangkit dari keterpurukan untuk lebih mempertebal iman dan berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru. Syair lagu ini juga meminta si anak gembala untuk memetik buah belimbing yang diibaratkan dengan perintah sholat lima waktu. Perintah sholat dan juga rukun islam yang lain juga harus dilakukan dengan sekuat tenaga, apapun halangan dan resikonya. Meskipun ibarat pakaian terkoyak dan berlubang di sana-sini, namun sebagai umat, seseorang diharapkan untuk memperbaiki dan mempertebal iman dan takwa.[21].
Tembang-tembang Sunan Kalijaga juga menciptakan tembang-tembang yang memuat ajaran spiritual.[22] Sunan Kalijaga juga menciptakan tembang Sluku-Sluku Bathok. Syair lagu tersebut adalah sebagai berikut:
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Solo
Oleh olehe payung Motha
Mak jenthit lolo lobah
Wong mati ora obah
Nek obah medeni bocah
Nek urip goleka dhuwit
“Ayun-ayun kepala
Kepalanya geleng-geleng
Si bapak pergi ke Solo
Oleh-olehnya payung Mutha
Secara tiba-tiba bergerak
Orang mati tidak bergerak
Kalau bergerak menakuti orang
Kalau hidup carilah uang”

Menurut  Lusia, tembang Sluku-sluku Bathok mempunyai makna bahwa hidup tidak boleh dihabiskan hanya untuk bekerja. Waktu juga untuk  istirahat, waktu istirahat digunakan untuk menjaga jiwa dan raga agar selalu dalam kondisi seimbang. Sluku-sluku Bathok, artinya bathok kepala kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemamapuannya. Bathoke ela-elo berarti dengan cara berdzikir. Ela-elo sama dengan laa ilaa ha illallah, mengingat Allah akan mengendurkan saraf di otak. Lalu si Rama menyang solo berarti siram atau mandilah atau bersuci menuju solo (sholat), lalu dirikanlah sholat. Oleh-olehe payung mutha mengartikan yang sholat akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Allah. Kalau Allah sudah melindungi, maka tidak ada satupun di dunia ini yang kuasa menyakiti kita. Tak jendhit lolobah berarti kematian itu datangnya tiba-tiba dan tak ada yang tahu, tak bisa dimajukan atau dimundurkan walau sesaat, sehingga saat kita masih hidup, kita harus senantiasa bersiap dan waspada untuk mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal untuk dibawa mati kelak. Yen obah medheni bocah artinya ketika kematian datang, maka segala kesempatan beramal terputus. Banyak yang minta dihidupkan kembali, tapi Allah tidak mengijinkan, karena bentuknya juga akan menakutkan orang lain yang masih hidup, dan mudharatnya juga lebih besar. Yen urip goleke duwit berarti kesempatan terbaik untuk berkarya, meraih hidup yang mulia, membahagiakan orang tua, menyumbang bagi tegaknya agama Allah adalah saat ini. Nilai pendidikan yang bisa diambil dari lirik lagu ini adalah cinta kepada Tuhan dan alam semesta beserta isinya.
Masih menurut Lusia, fungsi yang terdapat pada tembang ini adalah fungsi religius dengan pesan, bahwa manusia hendaklah membersihkan batinnya dan senantiasa berzikir mengingat Allah dengan (ela elo). Ela elo dimaksud adalah dengan menggelengkan kepala sambil mengucapkan lafal laa illa ha illallah di saat susah maupun senang dan menerima musibah maupun kenikmatan, karena hidup mati manusia di tangan Allah.[23]
5)      Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Gunung Jati
Salah satu strategi dakwah yang digunakan Sunan Gunung Jati adalah dengan memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh penting yang ada Cirebon melalui Pernikahan. Dengan memperkuat hubungn dengan tokoh-tokoh di Cirebon Sunan Gunung Jati menjadi Mudah dan bisa diterima dengan baik. Karena sebelum Sunan Gunung Jati berdakwah masyarakat Cirebon menganut pada tokoh-tokoh yang ada. Tapi setelah Sunan Gunung Jati berdakwah di Cirebon masyarakat merespon dengan baik. Sehingga menerima dakwah pendidikan dengan baik.
6)      Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Drajat
Sunan drajat6 dikenal dengan wali yang sangat merakyat, karena Sunan Drajat menggunakan strategi dakwah dengan peduli dan pendekatan kepada Masyarakat keas bawah atau masyarakat miskin.setelah memberi perhatian kepada kepada kalangan bawah Sunan Drajat memberi pemahaman dan ajaran tentang islam. Ajaran tersebut lebih menekankan pada etos kerja atau kegigihan dakam bekerja, solideritas sosial, dan gotong royong. Selain itu Sunan Drajat dikenal masyarakat sebagai pepali pitu tujuh dasar ajaran), yang mencakup tujuan falsafaah yang dijadikan pijakan dalam kehidupan sebagaimana berikut:
a.       Memangun resap tiyasing sasama (kita selalu membuat orang senang hati orang lain)
b.      Jroning suka kudu eling lan waspodo (dalam suasana gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan Selalu waspada)
c.       Laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning lampah (dalam upaya mencapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan rintangan.
d.      Meper hardaning pancad riya (senantiasa berjuang menekan gejolak nafsu-nafsu indrawi).
e.       Heneng-hening-henung (dalam diam akan dicapai keheningan dan didalam keheningan akan mencapai jalan kebebasan mulia).
f.       Mulia guna panca waktu (pencapaian kemuliaan lahir batin diciptakan menjalani salat lima waktu).
g.      Menehono teken marang wong kang wutoh.
Menehono mangan marang wong kang luwe.
Menehono busana marang wong kang wuda.
Menehono pangiyub marang wong kang kaudanan.
(berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makanan kepada orang yang lapar. Berikan pakaian kepada orang yang tidak memiliki. Berikan tempat berteduh kepada orang oraang yang kehujanan).
Dengan ajaran tersebut Sunan Drajat mendapat pengikut yang banyak, karena ajarannya mudah dan sederhana.
7)      Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Kudus
Dakwah Sunan Kudus dengan cara mendekati masyarakat untuk memahami apa yang diharaapkan masyarakat. Dan dalam hal dakwah langsung terjun dalam masyarakat Sunan Kudus banyak memanfaatkan jalur seni dan budaya beserta teknologi terapan yang bersifat tepat guna, yang dibutuhkan masyarakat. Menurut primbon Prof. K.H.R. Moh. Adnan, sebagai anggota walisongo, Raden Ja’far  Shodiq dalam menjalankan dakwahnya mendapat tugas memberi bimbingan dan keteladanan kepada masyarakat. Lewat pendekat tersebut dakwah Sunan Kudus dapat diterima dengan baik.
8)      Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Muria
Dalam melakukan dakwah islam, sunan Muria memilih pendekat sebagaimana dijalankan ayahandanya, Sunan Kalijaga. Tradisi keagamaan lama yang dianut masyarakat tidak dihilangkan, melainkan diberi warna islam dan dikembangkan menjadi tradisi keagamaan baru yang khas islam. Demikianlah tradisi bancaan dengan tumpeng yang bisa dipersembahkan ke tempat-tempat angker diubah menjadi kenduri, yaitu upacara mengirim do’a kepada leluhur yang menggunakan do’a-do’a islam di rumah orang yang menyelenggarakan kenduri. Dalam usaha menyiarkan ajaran islam sesuai pemaham masyarakat, sunan muria mengikuti jejak Sunan kalijaga dan wali-wali yang lain, yaitu melalui bahasa tembang. Melalui cara tersebut dakwah Sunan Muria dapat diterima dengan baik, sehingga masyaraakat Jawa mengikuti ajaran tersebut.
9)      Gerakan Dakwah Pendidikan Raden Patah
Dakwah yang dilakukan oleh Raden Patah adalah dengan mengeluarkan undang-undangan dalam kesultannanya. Dengan adanya undang-undang yang ditetapkan, masyarakat mematuhi atau mengikuti undang-undang tersebut. Undaang-undang yang dibuat berisi tentang ajaran pendidikan islam.[24]

C.       Simpulan

Melaksanakan dakwah pendidikan yang dilakukan oleh Walisongo dalam mendidik masyarakat Jawa supaya menjadi masyarakat yang mengetahui dan paham tentang ajaran islam. Walisongo melakukan dakwah di tanah Jawa dengan caara melakukan pendekatan terhadap masyarakat Jawa, melakukan Asimiliasi kebudayaan, dan melalui metode atau cara-cara yang tetap melibatkan kebudayaan masyarakat sebelumnya.
 Sarana yang digunakan Walisongo untuk berdakwah adalh dengan menggunakan Wayang, tembang-tembang, gamelan,pendekatan budaya  ataupun pendekatan lainnya yang membuat masyarakat Jawa menjadi nyaman dan tau tentang pendidikan yang ada dalam islam. Melalui penyajian dakwah pendidikan yang  menyenangkan, Walisongo berhasil menyiarkan pendidikan islam dalam  masyarakat Jawa tanpa adanya pertumpahan darah dan dilakukan secara damai.
Untuk menyelenggarakan dakwah pendidikan dalam kebudayaan masyarakat jawa, diperlukan pendekatan kebudayaan dengan memahami kebudayaan Jawa.
Daftar Pustaka
Buku:
Asrohah , Hanun. 1999. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
Sunyoto Agus. 2012.  Atlas Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkapkan Walisongo Sebagai Fakta Sejarah. Malang: PT. Pustaka IIMaN, Trans Pustaka, dan LTN PBNU.
Jurnal:
Ashadi. 2013. Dakwah Wali Songo Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Perubahan Bentuk Arsitektur Mesjid di Jawa. Jurnal Arsitektur NALARs, Vol. 12,  No. 2.
Fadli , Failasuf  Dan Nanang Hasan Susanto. 2017.  Model Pendidikan Islam Kreatif Walisongo, Melalui Penyelenggaraan Pendidikan Yang Menyenangkan. Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1.
Fatkhan, Muh.  2003. Dakwah Budaya Walisongo (Aplikasi Metode Dakwah Walisongo di Era Multi­kultural). Jurnal Aplikasia,Vol. IV, No. 2.
Juwariyah. 2009. Pengertiandan Komponen-Komponen Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus Dan Muhammad 'Athiyah Al-Abrasyi (Tinjauan Analisis Kritis). Mukaddimah, Vol. XV, No.26.
Pujiyanto , Tri.  Peranan Kesenian Rebana Walisongo Sragen Dalam Strategi Dakwah Kh.Ma’ruf Islamuddin. Jurnal Universitas Sebelas Maret.
Solikin, Syaiful M. Dan Wakidi, Metode Dakwah Sunan Kalijaga Dalam Proses Islamisasi Di Jawa. Fkip Unila.
Tajuddin, Yuliyatun.  2014.  Komunikasi Dakwah Walisongo Perspektif Psikosufistik. Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam AT-TABSYIR, Vol.  2, No. 2.
Zuhriy , M. Syaifuddien. 2011.  Budaya Pesantren Dan Pendidikan Karakter Pada Pondok Pesantren Salaf. Wa lisongo, Vol. 19, No. 2.


[1] Muh. Fatkhan, Dakwah Budaya Walisongo (Aplikasi Metode Dakwah Walisongo di Era Multi­kultural). Jurnal Aplikasia,Vol. IV, No. 2 Desember 2003. h. 122-124
[2] Failasuf Fadli Dan Nanang Hasan Susanto, Model Pendidikan Islam Kreatif Walisongo, Melalui Penyelenggaraan Pendidikan Yang Menyenangkan. Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1, Februari 2017. h. 27-28
[3] Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam. (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 2-4
[4]  Juwariyah, Pengertiandan Komponen-Komponen Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus Dan Muhammad 'Athiyah Al-Abrasyi (Tinjauan Analisis Kritis). Mukaddimah, Vol. XV, No.26 Januari-Juni 2009. h. 76
[5] Ashadi, Dakwah Wali Songo Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Perubahan Bentuk Arsitektur Mesjid di Jawa. Jurnal Arsitektur NALARs, Vol. 12,  No. 2 Juli 2013. h. 3
[6] Yuliyatun Tajuddin, Komunikasi Dakwah Walisongo Perspektif Psikosufistik. Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam AT-TABSYIR, Vol.  2, No. 2, Juli – Desember 2014. h. 98
[7] Ashadi, Dakwah Wali Songo Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Perubahan Bentuk Arsitektur Mesjid di Jawa. Jurnal Arsitektur NALARs, Vol. 12,  No. 2 Juli 2013. h. 3-5
[8] Muh. Fatkhan,  Dakwah Budaya Walisongo (Aplikasi Metode Dakwah Walisongo di Era Multi­kultural). Jurnal Aplikasia,Vol. IV, No. 2 Desember 2003. h. 124-127
[9] M. Syaifuddien Zuhriy, Budaya Pesantren Dan Pendidikan Karakter Pada Pondok Pesantren Salaf. Walisongo, Vol. 19, No. 2,  November 2011. h. 291
[10] Hanun Asrohah, Sejarah Pendidikan Islam. (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 187
[11] Muh. Fatkhan,  Dakwah Budaya Walisongo (Aplikasi Metode Dakwah Walisongo di Era Multi­kultural). Jurnal Aplikasia,Vol. IV, No. 2 Desember 2003. h. 127-132
[12] M. Syaifuddien Zuhriy, Budaya Pesantren Dan Pendidikan Karakter Pada Pondok Pesantren Salaf. Wa lisongo, Vol. 19, No. 2,  November 2011. h. 290
[13] Tri Pujiyanto, Peranan Kesenian Rebana Walisongo Sragen Dalam Strategi Dakwah Kh.Ma’ruf Islamuddin. Jurnal Universitas Sebelas Maret. h. 3-5
[14] Yuliyatun Tajuddin, Komunikasi Dakwah Walisongo Perspektif Psikosufistik. Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam AT-TABSYIR, Vol.  2, No. 2, Juli – Desember 2014. h. 112
[15]Agus Sunyoto, Atlas Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkapkan Walisongo Sebagai Fakta Sejarah. (Malang: PT. Pustaka IIMaN, Trans Pustaka, dan LTN PBNU, 2012), hlm. 128
[16]  Muh. Fatkhan,  Dakwah Budaya Walisongo (Aplikasi Metode Dakwah Walisongo di Era Multi­kultural). Jurnal Aplikasia,Vol. IV, No. 2 Desember 2003. h. 2
[17] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkapkan Walisongo Sebagai Fakta Sejarah. (Malang: PT. Pustaka IIMaN, Trans Pustaka, dan LTN PBNU, 2012), hlm.123- 222
[18] Solikin, Syaiful M. Dan Wakidi, Metode Dakwah Sunan Kalijaga Dalam Proses Islamisasi Di Jawa.
 Fkip Unila. h. 6-7

[19] Failasuf Fadli Dan Nanang Hasan Susanto, Model Pendidikan Islam Kreatif Walisongo, Melalui Penyelenggaraan Pendidikan Yang Menyenangkan. Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1, Februari 2017. h. 36-37
[20] Solikin, Syaiful M. Dan Wakidi, Metode Dakwah Sunan Kalijaga Dalam Proses Islamisasi Di Jawa.
 Fkip Unila. h. 6
[21] Failasuf Fadli Dan Nanang Hasan Susanto, Model Pendidikan Islam Kreatif Walisongo, Melalui Penyelenggaraan Pendidikan Yang Menyenangkan. Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1, Februari 2017. h. 38-39
[22] Agus Sunyoto, Atlas Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkapkan Walisongo Sebagai Fakta Sejarah. (Malang: PT. Pustaka IIMaN, Trans Pustaka, dan LTN PBNU, 2012), hlm. 222
[23] Failasuf Fadli Dan Nanang Hasan Susanto, Model Pendidikan Islam Kreatif Walisongo, Melalui Penyelenggaraan Pendidikan Yang Menyenangkan. Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1, Februari 2017. h.  41
[24]  Agus Sunyoto, Atlas Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkapkan Walisongo Sebagai Fakta Sejarah. (Malang: PT. Pustaka IIMaN, Trans Pustaka, dan LTN PBNU, 2012), hlm. 382

Tidak ada komentar:

Posting Komentar