GERAKAN
DAKWAH PENDIDIKAN WALISONGO DALAM KEBUDAYAAN JAWA
Firda Fasya
Sejarah Pendidikan Islam, Kelas E, Pendidikan
Agama Islam
Abstrak
Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui
gerakan dakwah pendidikan yang dilakukan oleh walisongo terhadap kebudayaan
masyarakat jawa. Dengan menggunakan metode pencarian data pustaka dan analisis
sehingga mendapatkan kesimpulan yang mudah dipahami. Dakwah pendidikan yang dilakukan walisongo
untuk mengembangkan pendidikan di tanah jawa mempunyai peran yang penting.
Masyarakat jawa yang dikenal dengan masyarakat yang kental dengan tradisi dan kebudayaannya
menjadi tahu apa saja pendidikan yang diajarkan dalam islam. Tradisi dan kebudayaan
yang ada dalam masyarakat jawa merupakan peninggalan nenek moyang yang turun
menurun, sehingga Tradisi dan kebudayaan mereka sangat kental dan sulit untuk
ditinggalkan karena mereka sudah terbiasa dengan hal-hal tersebut. Akan tetapi walisongo berhasil menyebarkan
pendidikan ajaran islam yang bisa diterima dengan baik oleh masyarakat jawa
tanpa meninggalkan tradisi dan kebudayaan yang ada, dengan proses yang damai
dan mengakulturasikan kebudayaan yang melekat pada masyarakat jawa seperti
wayang, tembang-tembang mocopat dan cerita. proses tersebut melalui
gerakan-gerakan dakwah yang islami dan sesuai dengan ajaran agama islam.
Kata Kunci: Walisongo, Pendididikan, Kebudayaan.
A. Pendahuluan
Dalam Al-quran tercantum bagaimana
cara berdakwah yang baik dan benar. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad saw. Dalam mendakwahkan agama islam. Beliau telah memeberikan contoh
yang patut kita teladani dalam gerakan-gerakan
dakwah, baik gerakan dakwah islam maupun gerakan dakwah pendidikan.
Seperti pidato atau ceramah baik yang dilakukan beliau sendiri maupun mengutus
orang-orang kepercayaan beliau. Walisongo pun melakukan hal yang sama dalam
melaksanakan gerakan dakwah terhadap masyarakat jawa yang mempunyai kebudayaan
nenek moyang. Gerakan dakwah tersebut mengacu pada pendidikan agama islam
sebagaimana yang diajarkan Rasulallah saw. Pada zaman dulu, dengan menggunakan
metode pendekatan budaya jawa. Gerakan dakwah walisongo dalam dakwah
menggunakan cara-cara damai, terutama melalui prinsip maw’wizhatul hasanah
wa mujadalah billati hiya ahsan, yang artinya metode atau cara dalam
penyampaian ajaran islam melalui cara dan tutur bahasa yang baik. Gerakan
dakwah tersebut berlangsung dengan damai. Walisongo perlahan mengubah
kebudayaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama islam menjadi kebudayaan yang
sesuai dan tidak menyimpang dengan ajaran agama islam melalui dakwah pendidikan
yang damai tanpa adanya kekerasan.[1]
Walisongo sangat sabar dalam
melakukan dakwah di jawa, padahal masyarakat jawa sudah menganut kepercayaan
tersendiri yaitu kepercayaan Hindu-Budha yang tidak jauh dari ajaran-ajaran
nenek moyang. Perjalan
dakwah walisongo diterima di semua kalangan, baik kalangan rendah maupun
tinggi, baik saudagar ataupun buruh, baik orang pintar maupun kaya. Menurut Muhammad Mustaqim Mohd Zarif, salah satu kunci kesuksesan
dakwah yang dilakukan oleh Walisongo adalah upaya kreatif sekaligus inovatif
yang dilakukan dengan kesabaran, ketulusan, keuletan dan kesungguhan dari para
Wali dalam menyebarkan agama Islam di Nusantara, terutama di tanah jawa yang
notabennya kental akan kebudayaan. Walisongo berhasil meyebarkan pendidikan
islam di tanah jawa. Keberhasilan dakwah
walisongo dapat dilihat dari banyaknya lembaga pendidikan ataupun majlis
pendidikan yang memakai nama walisongo ataupun memakai nama-nama walisongo dan
juga ziarah ke makam para wali.[2]
Gerakan dakwah walisongo dalam
pendidikan islam di tanah jawa menjadikan masyaraakat jawa lebih mengenal apa
itu islam? Apa ajaran yang ada dalam pendidikan islam? Sehingga masyarakat
tidak terjerumus dalam hal-hal yang menyimpang dan sesuai dengan apa yang
diajarkan oleh Rasulallah melalui dakwah pendidikan yang dilakukan oleh
walisongo.
Pendidikan adalah sesuatu yang dibutuhkan bagi manusia. Dengan pendidikan
manusia dapat bertahan hidup. Dalam islam kedudukan pendidikan sangatlah
penting dan dinomor satukan. Hal ini bisa dilihat dalam Al-Quran dan Hadits,
yang banyak menjelaskan tentang pentingnya pendidkan bagi kehidupan manusia
supaya bisa bertahan hidup dan menjalani kehidupan sebagai hamba Allah. Banyak
ayat-ayat al-quran yang menerangkan
tentang pendidikan bagi manusia, seperti ayat yang menerangkan tentang
kekuatan akal, menuntut ilmu dan memperdalam pengetahuan.[3]Pendidikan
islam adalah usaha yang dilakukan oleh pendidik muslim kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi baik
rohaniah maupun jasmaniyah dalam meningkatkan ketaqwaan, iman, pengetahuan baik
agama maupun umum untuk mancapaik kebahagiaan dunia dan akhirat. Pendidikan
islam juga mengajarkan tentang perilaku seseorang untuk menjadi orang yang
berakhlaqul karimah sesuai dengan ajaran Rosulallah swa., mengajarkan bagaimana
ibadah yang sesuai dengan ajaran islam, dan mengajarkan ajaran-ajaran sesuai
dengan syari’at islam.[4]
Oleh karena itu, dakwah pendidikan walisongo di tanah jawa merupakan suatu
gerakan dakwah yang mengenalkan pendidkan islam dan pentingnya pendidikan
islam.
Melaksanakan dakwah seperti apa yang
dilakukan oleh walisongo merupakan suatu proses yang cukup penting untuk
menjadikan masyarakat jawa mengerti tentang pendidikan islam. Walisongo pun
berhasil menyebarkan dakwah islam yang rohmatalill’alamin yang masih
dijadikan acuan ataupun teladan masyarakat jawa. Tulisan ini akan menelusuri
bagaimana gerakan dakwah pendidikan yang dilakukan oleh walisongo dalam
kebudayaan jawa dengan metode pengumpulan daftar pustaka.
B. Pembahasan
1. Dakwah
Pendidikan Walisongo
Menurut sejarah keyakinan orang
jawa, yang pertama kali menyiarkan agama islam di tanah jawa adalah wali. Wali
ialah seseorang yang mempunyai kemampuan yang dalam, mempunyai kekuatan yang
bersifat ghoib. Kata Wali berasal dari Bahasa arab, yang berarti “orang yang
dijaga kemaksiatannya oleh Allah. Seorang wali mendapat ilham berupa cahaya
yang menyinari jiwanya dan memiliki kekuatan yang luar biasa, hal tersebut
biasanya disebut keramat. Wali kependekan dari Waliyullah artinya orang
yang mencintai dan dicintai Allah. Ada yang mengartikan Wali adalah kedekatan.
Sehingga Waliyullah berarti orang yang kedudukannya dekat dengan Allah
swt.. Wali-wali yang terkenal sebagai penyiar agama islam yang pertama di Jawa,
berjumlah sembilan dan biasa disebut dengan Walisongo. Songo berasal dari bahasa
Jawa yang berarti Sembilan. Ada juga yang berpendapat bahwa kata Songo
merupakan kerancuan dari pengucapan kata Sana yang dalam bahasa Jawa
berhubungan dengan tempat tertentu. Jadi, Wali Songo berarti Wali yang
jumlahnya sembilan orang. Dan dapat diartikan juga dengan Wali bagi suatu
tempat tertentu (Walisana). Kata Sana berasal dari berasal dari bahasa
Arab Tsana yang berarti terpuji. Sehingga Wali Songo berarti Wali yang
terpuji. Karena hal-hal tersebut hanya
terjadi pada orang-orang tertentu, atau bisa dikatakan orang-orang pilihan
Allah.Walisongo terdiri dari:
a. Maulana
Malik Ibrahim (Syekh Maghribi)
b. Sunan Ampel (Raden
Rahmat)
c. Sunan Giri
(Raden Paku)
d. Sunan Bonang
(Maulana Makdum Ibrahim)
e. Sunan
Kalijaga (Raden Mas Syahid)
f. Sunan Kudus
(Syeikh Ja’far Sodiq)
g. Sunan Gunung
Jati (Syarif Hidayatullah)
h. Sunan Drajat
(Syarifuddin)
i.
Sunan Muria (Raden Umar Said)
Sampai sekarang masyarakat jawa
masih mempercayai tentang ajaran agama islam yang dibawa oleh walisongo.[5]
Walisongo melakukan dakwah di
jawa dengan melakkan pendekatan. Dakwah adalah mengajak ataupun mengajarkan pihak lain agar mengikuti ajaran yang dianutnya, baik berlangsung
secara paksa maupun keinginan sendiri. Dakwah yang dilakukan walisongo di jawa
adalah dakwah yang menyatukan ajaran keagamaan dengan budaya yang dimiliki
masyarakat jawa. Pola dakwah Walisongo berdasarkan pada pola pengelolaan dan
pengembangan budaya masyarakat. Dalam pengembangan kebudayaan walisongo
memasukkan nilai-nilai yang umum atau universal, kearifan lokal, dan ajaran
Islam yang rahmatan lil’alamiin, supaya tetap sejalan dengan ajaran
agama islam dan kebudayaan masyarakat jawa. Tujuan dakwah adalah membentuk dan
meningkatkan karakter kepribadian yang baik atau berakhlakul karimah dan dapat
membentuk keseimbangan unsur jiwa baik rohani maupun jasmani sebagai manusia
yang berdimensi fisik, psikis, sosial, dan spiritual.[6]
Dakwah yang dilakukan oleh
walisongo juga mencakup tentang pendidikan, pendidikan yang sesuia dengan
ajaran agama islam sebagaimana telah diajarkan oleh Rasulallah saw.. Dalam Dakwah
pendidikan di Jawa walisongo terbagi
menjadi dua kubu, yakni yang pertama kubu yang menerapkan metode
pendekatan non kompromis. Non kompromis artinya bahwa ajaran Islam yang
didakwahkan walisongo kepada masyarakat Jawa benar-benar sesuai dengan ajaran
Islam yang telah didakwahkan Nabi Muhammad saw. kepada masyarakat Arab pada
zaman dahulu. Pendekatan kompromis dipelopori
oleh Maulana Malik Ibrahim, kemudian Sunan Ampel dan diteruskan Sunan
Giri. Kedua, kubu yang menerapkan metode pendekatan kompromis yaitu
berkerja sama dengan masyarakat jawa. Pendekatan kompromis dipelopori oleh
Sunan Kalijaga. Ajaran islam yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga berbau
sinkretisme (memadukan kebudayaan dengan ajaran islam).
Untuk menelaah
ajaran Walisongo bisa menggunakan Sumber dokumen asli, yaitu Het Book van
Mbonang dan kropak ferrara. Het Book Van Mbonang berisi tentang
wejangan Sunan Bonang, naskah aslinya terdapat di museum Leiden, Belanda
sedangkan Kropak Ferrara adalah rekaman yang merekam sarasehan Wali
Songo di Giri Kedaton Gresik, naskah aslinya terdapat di perpustakaan umum
Ariostea di Ferrara, Italia. Dalam Het Book van Mbonang menjelaskan inti
ajaran Sunan Bonang yaitu, perlunya setia dengan syari'at,
ibadah harus bebas dari bid'ah, meningkatkan iman dan taqwa melalui thoriqot
sesuai dengan yang diajarkan oleh
Nabi Muhammad saw., dan berbuat baik sesama manusia sesuai dengan apa yang
diajarkan dalam Al-Qur’an. Kropak Ferrara berisi tentang pentingnya
untuk meninggalkan tradisi menyembah berhala, membuat sesaji dan sebagainya
seperti apa yang terjadi dalam masyarakat Jawa sebelumnya yang masih menganut ajaran-ajaran
nenek moyang,. Kropak Ferrara juga mengingatkan kepada para mu'alaf untuk
yaqin kepada ajaran agama islam dan tidak jatuh kembali ke dalam kepercayaan
lama, menghindari bid’ah, harus mantap, teguh dan tenang jiwanya, jangan
mudah terbawa godaan iblis dan setan.
Perbuatan yang harus dilaksanakan orang Islam adalah menunaikan rukun Islam
(bersyahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji) secara benar dan sungguh-sungguh
sesuai dengan syari’at. Walisongo menerangkan bahwasannya dalam iman dan ilmu
pengetahuan seorang muslim akan terbuka hatinya dan bisa menghayati keimanannya
terhadap Allah dan juga akan mendapatkan petunjuk dari Al-Qur’an. Seorang muslim yang beramal tanpa
disertai ilmu, maka tidak akan bertemu dengan kebahagiaan, dan seluruh perbuatannya
akan rusak karena segala sesuatu pasti ada ilmunya.
Setelah peran
Sunan Giri dan Sunan Bonang tidak lagi menonjol, kemudian tampillah Sunan
Kalijogo. Sunan kalijogo menerapakn pendekatan yang memadukan tasauf mistik
dengan fikih syara'. Alasannya, kalau langsung belajar tasauf tidak didasari
dengan fikih, kemungkinan seseorang akan menjadi zindiq karena mendekati
Allah SWT dengan meninggalkan syari'at tanpa mempelajari fikih terlebih dahulu.
Sebaliknya, mempelajari syari'at tanpa tasauf, otak hanya dipenuhi dengan
kajian halal-haram, sedangkan jiwa tetap kosong dan kasar. Ajaran Wali Songo
setelah Sunan Giri dan Sunan Bonang, cenderung menjauhi kemurnian ajaran Islam,
dan lebih bersifat memadukan dengan kebudayaan sebelumnya dengan nilai
agama-agama terdahulu.
Dalam dakwah
pendidikan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Giri dan Sunan Ampel membangun sebuah
perguruan di tempat tinggalnya. Tapi lain halnya dengan Sunan Kalijaga yang
tidak membangun perguruan di tempat tinggalnya. Sunan Kalijaga mengajarkan ajaran
islam dengan mengembara ke segala penjuru tanah Jawa. Sunan Kalijaga merupakan
pimpinan golongan orang islam yang tidak meragukan adanya Tuhan selain Allah
swt. dan ibadah yang dilakukan semata hanya karena Allah dengan melaksanaakan
Syari’at secara Murni. Golongan tersebut biasa disebut Golongan Abangan. Selain
Golongan abangan ada juga Golongan Putihan, yaitu Golongan yang tetap setia
malkasanakan syari’at secara murni yang dipelopori oleh Sunan Ampel dan Sunan Giri. Dalam dakwahnya Golongan
Putih tidak menggunakan Kesenian, sedangkan Golongan Abangan menggunakan
Kesenian. Golongan abangan menggunakan sarana kesenian tembang-tembang dan
wayang. Penganut golongan abangan beranggapan bahwa Sunan Kalijogo menempuh strategi
kompromi untuk menghilangkan kebudayaan orang Jawa yang masih terikat kuat
dengan agama Hindu, Budha atau Animisme yang selalu menganut pada nenek moyang.
Suanan kalijaga ingin membuat masyarakat Jawa mau menmpelajari pendidikan islam
yang dibawa olehnya. Sedangkan golongan putihan beranggapan dengan adanya
kompromi tersebut masyarakat jawa mencampur adukkan nilai-nilai kebudayaan
dengan ajaran islam sehingga tercampur kebudayaan lama sampai sekarang.
Misalnya, kegitana yang dilakukan pada malam jum’at. Pada kebudayaan masyarakat
Jawa dulu terbiasa membakar kemenyan dan dirubah dengan membaca Surat yasin
dengan ajaran dan aturan tertentu yang tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad saw..[7]
Dakwah pendidikan yang
dilakukan oleh Walisongo di Tanah Jawa menggunakan beberapa metode, yaitu:
1)
Metode Al-Hikmah
Cara ini digunakan untuk menghadapi masyarakat-masyarakat awam. Cara ini
dilakukan oleh Sunan Kalijaga dan Sunan Kudus. Walapun terkadang cara ini
terlihat menonjol sehingga banyak masyarkata yang tertarik, karena dengan
ketidak tahuan masyarakat terhadap pendidikan islam menjadikan masyarakat
tertarik. Dalam dakwah pendidikan Sunan
Kalijaga menggunakan gamelan Sekaten atau Syahadatayn (kunci
keislaman, yaitu Dua kalimat Syahadat). Kegiatan sekaten dilakukan di Masjid
Agung, dalam kegiatan ini Sunan Kalijaga memukul gamelan dengan tembang-tembang
yang saat itu masi terkenal dalamkebudayaan Jawa. Kegiatan ini dilakukan
menjelang peringatan maulid nabi Muhammad saw. Selain itu Sunan Kalijaga Juga
menggunakan kesenian Wayang yang menceritakan tentang ajaran ketauhidan. Cara
tersebut juga digunakan oleh Sunan Kudus. Wali-wali yang lain juga menggunakan
metode ini, diantaranya: Sunan Ampel yang menyusun tentang aturan-aturan
syari’at bagi masyarakat Jawa. Sunan Gresik yang mengubah motif , pola dal
lurik pada batik dan perkengkapan kuda.
2)
Metode Tadaruj atau tarbiyatul ummah
Cara digunakan untuk mengetahui pengelompokan pendidikan yang dimiliki
masyarakat jawa. Agar dakwah pendidikan
ajaran Islam dapat dengan o menempuh jalan dakwah secara merata dengan mendasarkan
pokok pikiran pada li kulli maqam maqam, tidak semuanya disamakan karena
pemikiran masyarakat berbeda-beda. Cara
penyampaian dakwah pendidikan ini melalui pesantren dan lembaga pendidikan
lainnya.[8]
Pesantren adalah sebuah wilayah yang khusus yang mempunyai ciri khas tersendiri
dari wilayah lain. Unsur-unsur pesantren diantaranya; kiai, santri, masjid,
pondok dan pengajaran kitab-kitab klasik yang menjadi bahan ajaran dalam
pesantren.[9] Dalam
lingkungan pesantrwn jugam menggajarkan pendidikan untuk umum, seperti masalah
fikih dan syari’at.[10]
3)
Dakwah Pembentukan dan Penanaman Kader, Serta
Penyebaran Juru Dakwah ke berbagai Daerah
Cara ini dalah dengan mengutus atau mengkader seseorang untuk berdakwah di
Jawa, karena Jawa adalah wilayah yang masih jauh dari pendidikan islam. Contohnya
Sunan Kalijaga mengkader Kiai Cede Adipati Pandanarang untuk berhijrah ke
Tembayat. Sunan Ampel menyuruh Raden Fatah berhijrah ke hutan Bintara.
Dalam berdakwah para wali mempunyai siasat yang
bijaksana. Walisongo membuat sistem pendidikan
denga pendekatan psikologis. Banyak bukti yang tersisa dan dapat dilihat
sampai sekarang tentang adanya dakwah pendidikan walisongo di Jawa yang
dilakukan dengan Damai tanpa adanya perpecahan. Selain menggunakan pendekatan
psikologis walisongo juga menggunakan pendekatan yang didukung dengan media
audio dan visual. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa para wali menguasi ilmu-ilmu pendidikan
seperti ilmu fikih, syari’at, tasawuf , mistik dan lain sebagainya. Selain itu
walisongo juga menguasai masalah-masalah yang berkaitan dengan kehidupan
masyarakat. Masalah-masalah tersebut antara lain tercakup
dalam tujuh lapangan kehidupan seperti kejasmanian dan
kesehatan, tata kehidupan dan kemakmuran masyarakat, politik dan kenegaraan, pendidikan,
pengetahuan, dan pengajaran, kebudayaan,
kesenian, hiburan, dan kegiatan lain
yang bermanfaat, misalnya khusus dalam kegiatan keagamaan seperti
peribadatan, akidah, mistik dan lain sebagainya.[11]
2.
Dakwah Pendidikan Walisongo Dalam Kebudayaan Jawa
Banyak yang membahas tentang
apa itu budaya. A.L. Kroeber dan C.
Kluckhohn menghimpun sebanyak 160 lebih mengenai definisi kebudayaan tersebut
dalam buku mereka berjudul Culture, a Critical Review of Concepts and Definitions.
Koentjaraningrat menyatakan,
kata budaya Secara etimologis berasal
dari kata budhayah yaitu bahasa
Sanskerta, yang merupakan bentuk jamak dari kata buddhi yang berarti
budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan dapat diartikan dengan
hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Kemudian Koentjaraningrat menyatakan bahwa kebudayaan
paling sedikit mempunyai tiga wujud, yaitu:
a. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari
ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma peraturan dan sebagainya.
b. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas,
kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
c. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya
manusia.
Berdasarkan pengertian
tentang budaya yang demikian, maka setiap individu, komunitas ataupun masyarakat bisa menciptakan budaya melalui kreasinya.
Kreasi yang diciptakan dapat dilakukan secara berulang dan bisa menjadi
kesepakatan yang dapat dijadikan budaya.[12] Berdasarkan
pendapat Koentjaraningrat ini, kebudayaan diperoleh dari proses belajar yang
dilakukan manusia dalam kehidupan masyarakat. Karena kebudayaan tidak datang
secara tiba-tiba melainkan bertahap. Adanya kebudayaan merupakan suatu usaha
manusia untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, selain diciptakan sebagai alat untuk mempertahankan
dan sekaligus mencapai kesempurnaan hidup manusia. Tiga gejala dalam Kebudayaan,
yaitu ideas, activities, dan artifacts. Gejala kebudayaan
yang termasuk kelompok ideas adalah suatu gejala yang masih terdapat di
dalam pikiran manusia yang berupa ide-ide, pendapat maupun gagasan manusia itu
sendiri. Sedangkan gejala kebudayaan yang termasuk kelompok actifities adalah
tindakan-tindakan manusia sebagai tindak lanjut dari apa yang terdapat dalam
alam pikir manusia, atau bisa dikatakan lanjutan dari ideas. Gejala
kebudayaan yang ketiga adalah artifacts, yaitu kebudayaan yang bersifat
kebendaan atau kebudayaan fisik atau kebudayaan material atau kebudayaan yang
dapat dilihat yang merupakan hasil karya manusia yang berupa benda dengan
berbagai sifatnya. Kebudayaan sebagai suatu sistem memiliki unsur-unsur yang bersifat
universal atau menyeluruh. Menurut Koentjaraningrat unsur-unsur kebudayaan yang diklasifikasikan menjadi:
1) Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (sepeti;
pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, dan sebagainya).
2) Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem
ekonomi (seperti; Pertanian, peternakan, sistem produksi, sistem distribusi,
dan sebagainya).
3) Sistem masyarakat (seperti; sistem
kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan).
4) Bahasa (lisan maupun tulisan).
5) Kesenian (seperti; seni rupa, seni suara, seni
gerak, dan sebagainya).
6) Sistem
pengetahuan.
7) Religi atau
keagamaan.
Kebudayaan merupakan kelakuan atau kebiasaan yang
dilakukan berulang-ulang dan diajarkan sebagai sesuatu yang baik dan patut
untuk diturunkan dari satu generasi kegenerasi berikutnya. Secara umum
kebudayaan identik dengan kesenian yaitu seni tari, seni sastra, seni suara,
seni pahat dan banyak seni lainnya.
Kesenian adalah salah satu unsur dari
kebudayaan yang merupakan bentuk aktifitas manusia dalam mengungkapkan sesuatu
melalui media ataupun melalui nilai-nilai kehidupan yang berkebudayaan.
Kebudayaan juga mempunyai nilai-nilai tertentu sebagai tujuan dari adanya
budaya tersebut. Nilai-nilai tersebut terdiri dari nilai moral, nilai kehidupan
dan nilai-nilai kebudayaan.[13]
Ditengah-tengah kondisi masyarakat yang telah memeiliki karakter dan latar belakang
sosial budaya, psikologis,
dan
kondisi politik pemerintahan yang menganut paham
animisme, menjadikan pertimbangan Walisongo untuk menentukan strategi dan metode dakwah pendidikan
yang harus dilakukan di tanah Jawa. Walisongo memilih Metode yang fleksibel dan
mampu diterima oleh masyarakat dengan baik tanpa adanya paksaan. Dakwah tidak hanya dilakukan secara lisan, tetapi juga
dalam segala keadaan, misalnya melalui akulturasi budaya yang menghasilkan kesenian
wayang yang ceritanya bernuansa Islam, tembang-tembang Jawa (seperti; Lir
Ilir, Cublak-cublak Suweng), tradisi tahlilan, mitoni, slametan
(bancakan). Walisongo tidak mempermasalahkan adanya kebudayaan yang
tidak sesuai dengan islam. Walisongo melakukan pendekatan supaya masyarakat
tidak menjauh dan menerima dakwa pendidikan Walisongo dengan baik. Di sinilah sikap
arif yang dimiliki Walisongo untuk menerima realitas kondisi psikologis dan
sosial masyarakat sebagai sebuah bentuk kesadaran bahwa setiap individu atau
suatu komunitas memiliki karakter yang tidak lepas dari proses pembentukan
lingkungannya. Tidak ada pemaksaan untuk mempelajari agama Islam, tetapi dengan
kesadaran diri melihat ajaran Islam yang dapat membentuk karakter kepribadian pemeluknya
yang memiliki sikap dan perilaku shaleh baik secara pribadi maupun sosial.[14]
Gerakan Dakwah pendidikan
Walisongo dilakukan dengan penyiraian yang damai, termasuk dalam menghadapi
kebudayaan masyarakat Jawa. Karena masyarakat Jawa Sudah memiliki kepercayaan,
yaitu animisme dan dinamisme.
Walisongo melakukan Dakwah
Pendiikan lewat Asimilasi Pendidikan. Usaha yang dilakukan Walisongo di tanah
Jawa adalah dengan mengembangkan pendidikan dengan model dukuh, asrama, dan
padepokan dalam bentuk pesantren-pesantren. Juga dengan model pendidikan yang
terbuka bagi masyarakat yaitu, pendidikan terbuka di Langgar, Tajuk,
masjid-masjid dan permainan anak-anak. Menurut Zaini Achmad Syis konteks
pendidikan pesantren yang ada di Nusantara pada dasarnya pengambilalihan atau
pengubahan bentuk lembaga pendidikan sistem biara dan asrama yang dipakai oleh
para pendeta dan bhiksu dalam belajar mengajar. Hal tersebut menjadi penyebab
pondok pesantren berasal dari Hindu-Budha. Menurut Clifford Geertz pondok
pesantren itu mengingatkan orang pada biara, tetapi santri bukanlah para
pendeta. Salah satu Proses Dakwah yang dilakukan walisongo dalam dunia
pendidikan adalah dengan mengambil alih lembaga Syiwa-Budha yang disebut
‘asrama” atau “dukuh” yang diganti dengan format ajaran islam menjadi pondok
pesantren.[15]
Dari metode-metode dakwah para wali, dapat dinyatakan bahwa para wali yang
dalam usahanya mengislamkan masyarakat Jawa ialah dengan berusaha mengubah
hal-hal lama yang tidak bersesuaian tanpa menghapusnya hanya saja mengubah agar
sesuai dengan ajaran islam.[16]
dengan Islam dengan melalui
pendekatan budaya
Selain dakwah lewat
asimilasi pendidikan walisongo juga melakukan dakwah lewat seni dan budaya. Seni
pertunjukan menjadi sarana komunikasi dan perubahan informasi pada masyarakat
jawa. Dengan pertunjukan seni Walisongo menyampaikan berbagai Nilai, paham,
konsep, gagasan, pandangan, dan ide yang bermanfaat dan tentunya bersumber pada
agama islam.
Menurut Prof. K.H.R. Moh
Adnan, walisongo adalah semacam lembaga dakwah yang berisi tokoh-tokoh masyarakat
yang ahli dalam ajaran islam yang berada ditengah masyarakat jawa. Menurut
Prof. K.H.R. Moh Adnan, walisongo mempunyai tugas sendiri-sendiri dalam
mengubah dan menyampaikan nilai-nilai dan sistem sosial budaya masyarakat
sebagai berikut:
a)
Sunan Ampel membuat Peraturan-peraturan yang islami untuk masyarakat Jawa.
b)
Raja Pandhita di Gresik merancang pola kain batik, tenun lurik dan
perlengkapan kuda.
c)
Susuhunan Majagung Mengajarkan mengola berbagai jenis masakan, lauk-pauk,
memperbarui alat pertanian dan membuat gerabah.
d)
Sunan Gunung jati di cirebon mengajarkan tata cara berdo’a dan membuat
mantra, tata cara pengobatan, serta tata cara membuka hutan. Supaya masyarakat
tidak mendapatkan gangguan dari makhluk lain.
e)
Sunan Giri membuat tatanan pemerintahan yang baru dengan mengatur
perhitungan kalender siklus perubahan hari, bilan tahun dengan menyesuaikan
pawokan, dan membuat pembukaan jalan.
f)
Sunan Bonang mengajarkan ilmu suluk, membuat gamelan mengubah irama
gamelan.
g)
Sunan Derajat, mengajarkan tata cara membangun rumahn ynag baik, membuat
alat-alat yang biasanya digunakan untuk memikul (seperti tandu dan joli).
h)
Sunan Kudus, merancang pekerjaann peleburan, membuat keris, melengkapi
peralatan pande besi (pembuat besi), kerajinan emas, dan membuat peraturan
undang-undanghingga sistem peradilan yang diperuntukkan bagi masyarkat Jawa.
Gerakan dakwah pendidikan yang dilakuka oleh walisongo dalam kebudayaan
tanah jawa diantaranya:
1)
Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Ampel
Usaha yang dilakukan Sunan Ampel adalah dengan cara membentuk kekerabatan
baru melalui perkawinan. Lewat perkawinan bisa saking belajar tentang ajaran
islam. Didalam Babad Tanah Djawi
digambarkan tentang sistem pendidikan yang diajarkan oleh Sunan Ampel yaitu
membaca Al-Qur’an, kitab-kitab tentang ilmu syari’at, tarekat, dan ilmu
hakikat, baiklafal maupun makna. Raden Rahmat juga mencontohkan kehidupan yang
zuhud dan melakukan riyadhah. Usaha yang
dilakukan Sunan Ampel melalui pendekatan kekeluargaan dan pengajaran yang biak
bisa diterima oleh masyarakat Jawa.
2)
Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Giri
Dalam usaha dakwahnya, Sunan Giri mengembangkan sistem Pesantren yang
diikuti oleh santri-santri dari berbagai daerah di Nusantara. Selain sistem
pendidikan pesantern Sunan Giri juga mengembangkan sistem pendidikan yang
terbuka engan menciptakan permainan anak-anak seperti jelungan,
jamuran,gendilgerit, san tembang-tembang permainan anak-anak seperti padang
bulan, jor, gula gant, dan cublek-cublek suweng. Permianan Cublek-cublek
suweng pun masih digunakan anak-anak zaman sekarang untuk bernyani dalam
bermaian. Sunan Giri pun menciptakan beberapa tembang tengahan dengan metrum
Asmaradhana dan Pucung yang sangat digemari masyarakat karena berisi ajaran
rohani yang tinggi dan tidak meninggalakan atau tidak jauh dari kebudayaan
masyarakat jawa sebelumnya. Sunan Giri juga melakukan dakwah dengan pertunjukan
wayang. R.M. sajid dalam Bau Warna Wajangan menyatakan bahwa
Sunan Giri memiliki peran yang sangat penting dalam melengkapi hiasan-hiasan
wayang seperti gelat bahu (gelang hias dipangkal lengan), gelang,
keroncongan (gelang kaki), anthing telinga, badong (hiasan pada punggung),
zamanag (hiasan kepala) dan lain-lain. Selain itu Sunan Giri juga mengarang
lakon-lakon wayang lengkap dengan suluknya. Dengan wayang Sunan giri melakukan
dakwah pendidikan dimana ceritanya berisi tentang ajaran islam.
3)
Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Bonang
Sunan bonang dalam dakwahnya diketahui dengan menjalankan pendekatan yang
lebih mengarah pada seni dan budaya. Sunan Bonang dikenal sebagai dalang, karena beliau pandai dalam memainkan
pertunjukan wayang yang digunakan untuk berdakwah dan mengajarkan
pendidikan-pendidikan islam. Beliau juga menggunakan Gamelan sebagai sarana
untuk berdakwah. Gamelan tersebut dinamakan Bonang.bonang adalah sejenis alat
musik dari bahan kuningan berbentuk bulat dengan tonjolan dibagian tengahnya,
mirip dengan gong kecil. Pada masa alampau alat musik ini selain digunakan
untuk gamelan pengeiring pertunjukan wayang, juga digunakan oleh aparat desa
untuk mengumpulkan warga dalam rangka penyampaian wara-wara dari pemerimntah
kepada penduduk. Sunan Bonang juga dikenal sebagai dalang yang mahir dalam
membawakan pertunjukan wayang, lewat pagelaran tersebut Sunan Bonang
menyebarkan ajaran-ajaran rohani. Prof. K.H.R. mohammad Adnan, Sunan Bonang
juga meneliti pengembangan ilmu pengetahuan dan menyempurnakan susunan gamelan
atau menggubah irama lagu-lagu. Salah satu gubahan dari Sunan Bonang dalam
tembang macapat yang termasyhur adalah tembang kidung Bonang yang disampaikan dalam pupuh Durma, Sebagai
berikut.
Ana kidung kidunge Paneran/ ara namun na sakit/ tekane sin sabran /rupane aran aban/ kapunah
in rasul muji/ panakit ilan/ kari waluya jati//
Kapayunan in luhur haras/ anirnaken paksi (bale ban) kan teka min sabran/ walan
lelembin kurikan/ tikus celen uti-uti/ lolodoh walan/ saken
ama suminkir//
Pager wetan Jabrail nulak/ sakehe inkan mandi/ lelenek tutukan/ rujek wewerjit minmang/ kapunah in puji tasbik/ bruwan aiyan/ pada adoh tan wani//
Pager kidul Mikail anulak/ in lara saketi/ senkel windu benan/ memesus uban-uban/ lara roga pada balik/ enek apulan/ in genahira lami//
Pager kulon Nijrail anulak/ guna trahnana weri (sanyan)/ teluh kunan-kunan/ desti lan japa mantra/ suwangi mula kabalik/marin guriyan/ ira in biru tasik//
Pager lor Israpil nulak kala/ in kala Kalasekti/ pejuh wurun kama/ lalis lan kamaman gerah/ oyod minman tali rawi/ ambintan kala/ teluh alas suminkir//
Lelemek esor walunsunanin/ naga pameluk bumi/ anulak muriyan/ mudidi(n) pada wenkan/ apikukuh lenabu kunin/ kan andudulan/ bale naras tumawin//
Isi dari Kidung Bonang mirip dengan Kidung Rumeksa Ing Wengi karya Sunan
kalijaga.
4)
Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Kalijaga
Dalam menyampaikan dakwah pendidikan Sunan Kalijaga menggunakan wayang
sebagai sarana, karena wayang sangat digemari oleh masyarakat Jawa (masyarakat
jawa yang masih menganut kepercayaan lama). Dengan kemampuan yang lihai Sunan
Kalijaga menyampaikan pendidikan ajaran islam. Masyarakat Jawa bagian barat
mengenal Sunan Kalijaga Sebagai dalang yang mempunyai banyak nama atau nama
Samaran. Di daerah pajajaran dikenal dengan Ki Dalang Sida Brangti, Di daerah
tegal dikenal dengan dalang barongan dengan nama Ki Dalang Bengkok. Di daerah
Purbalingga dikenal sebagai dalang topeng dengan nama KI Dalang Kumendung,
sedangkan di majapahit dikenal dengan nama Ki Unehan. Sunan klijaga berkeliling
dari wilayah Pajajaran hingga wilayah Majapahit. Menurut Primbon K.H.R.
Mohammad Adnan, Sunan Kalijaga menciptakan lagu sekar ageng dan sekar alit
serta menyempurnakaan irama gending-gending seperti apa yang dilakukan oleh
Sunan Bonang. [17]
Sunan kalijaga juga telah menjadikan Wayang kulit sebagai media atau sarana
dakwah pendidikan latihan rohani atau Riyadlah, dengan menampilkan tokoh-tokoh
pewayangan yang menjadi favorit rakyat, ke dalam pewayangan hampir keseluruhan
kisahnya dipentaskan cerita dan dialog-dialog tentang tashawuf dan akhlakul
karimah, sebabnya yang dituju adalah pemeluk Hindu ataupun Budha, yang
keseluruhan ajarannya berpusat pada ajaran kebatinan. Justru karena yang
dihadapi adalah orang-orang yang mengutamakan ilmu tentang kebatinan dalam
beragama (Hindu dan Budha) maka Sunan Kalijaga sengaja mengisi unsur-unsur
tashawuf dan akhlaqulkarimah. Sunan Kalijaga juga menciptakam pewayangan yang
sangat dekat dengan masyarakat Jawa adalah diciptakannya tokoh Punakawan dalam
cerita pewayangan yang terdiri atas Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong,
adalah tokoh-tokoh yang selalu ditunggu-tunggu dalam setiap pergelaran
Wayang di Jawa. Sebenarnya tokoh-tokoh ini tidak ditemui pada cerita Wayang
asli yang berasal dari India. Para tokoh Punakawan dibuat sedemikian
rupa mendekati kondisi masyarakat Jawa yang beraneka ragam. Hal ini membuktikan
bahwa kreasi Wayang kulit Sunan Kalijaga lebih inovatif dan lebih menarik
karena lebih disesuaikan dengan kebudayaan dan kondisi masyarakat Jawa. Ada
beberapa kidung yang berhasil digubah Sunan Kalijaga diantaranya adalah Kidung
Rumekso Ing Wengi. Merupakan sebuah tembang yang melambangkan pengharapan
di malam hari agar senantiasa terjaga dari segala bentuk pengaruh-pengaruh
negatif. Ini adalah salah satu perwujudan doa yang sama halnya dengan doa dalam
Islam pada umumnya, namun disusun dengan bahasa Jawa agar lebih dapat diterima
dengan alam pikiran masyarakat Jawa. Bagi orang Jawa tidak mudah mengucapkan
dan memahami doa dalam bahasa Arab, lalu Sunan Kalijaga menyusun doa Rumekso
Ing Wengi dalam bahasa Jawa. Bentuk kalimat dan gaya bahasa kidung
disampaikan sesuai dengan alam pikiran Jawa yang dapat diterima dengan baik
oleh masyarakat Jawa. Pada masyarakat
Jawa, masih juga dijumpai nasehat atau wejangan yang tersimpul dalam tembang dhandhanggula,
pesan ini menunjukkan bahwa manusia hidup di dunia hanya sementara karena suatu
saat pasti akan kembali kepada sang Tuhan. Sunan Kalijaga yaitu
lagu Lir-ilir dan Gundul-Gundul Pacul. Lagu Gundul-gundul Pacul dapat
dikatakan sebuah lagu yang sangat merakyat, hampir semua masyarakat Jawa
mengenal lagu ini. Selain dinyanyikan dengan nada ceria, lagu ini juga
mengandung nasehat bagi setiap manusia dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Lagu Gundul-gundul Pacul ini diyakini juga sebagai lagu yang diciptakan
oleh Sunan Kalijaga, begitulah unsur dakwah yang berhasil dimasukkan ke dalam
salah satu bentuk kegemaran masyarakat, yakni dengan lagu.[18] Syair lagu gundul-gundul
pacul tersebut adalah sebagai berikut:
Gundhul gundhul pacul cul,
Gembelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul,
Gembelengan
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar
Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
“Kepala botak tanpa rambut ibarat cangkul
Geleng-geleng
Membawa bakul
Geleng-geleng
Bakulnya jatuh, nasinya tumpah berantakan
di jalan
Bakulnya jatuh, nasinya tumpah berantakan
di jalan”
Menurut Lusia, fungsi yang ada pada
tembang gundul-gundu pacul adalah fungsi pendidikan. Yaitu menggambarkan
seorang anak yang gundul, nakal, bandel, angkuh dan tidak bertanggung jawab.
Dia tidak dapat membeda-bedakan hal-hal yang baik dan buruk. Dia beranggapan
bahwa dirinya adalah orang yang paling benar, paling bisa dan paling pintar,
sehingga dia bersikap gembelengan, yakni sombong dan tak tahu diri hanya
memikirkan diri sendiri. Apabila dipercaya untuk memegang amanah yang
menyangkut kehidupan orang banyak, dia tetap bersikap tidak peduli. Akibat dari
kesombongan dan keangkuhannya itu, maka kesejahteraan dan keadilan yang
semestinya didapatkan, jadi hancur berantakan. Syair tembang tersebut
mengandung nilai pendidikan agar manusia tidak boleh sombong. Seperti yang
diceritakan pada lagu tersebut, orang yang sombong, angkuh dan ceroboh akan
membawa pada kehancuran dan kegagalan. Untuk itu, jika kita menjadi pemimpin
yang diberi amanah dan tanggung jawab agar mampu mengemban amanah tersebut
sebaik-baiknya, sehingga mewujud pada kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.[19]
Lagu
tersebut memiliki makna filosofi yang sangat besar bagi kehidupan yang intinya
adalah menggambarkan keagungan ajaran Islam serta mengandung nasehat-nasehat
kehidupan. Sunan Kalija juga menciptakan Lagu Lir-ilir, lagu ini
menjadi alat dakwah bagi Sunan Kalijaga dalam menyampaikan ajaran Islam.[20]
Lagu lir ilir dinyanyikan dengan penuh penghayatan. Syairnya adalah
sebagai berikut:
Lir ilir, lir ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo
Tak sengguh temanten anyar
Cah angon cah angon
Penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno
Kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro dodotiro
Kumitir bedah ing pinggir
Dondomono, jlumatono
Kanggo sebo mengko sore
Mumpung Padhang rembulane
Mumpung jembar kalangane
Yo sorako, sorak iyo!
“Bangunlah, bangunlah!
Tanaman sudah bersemi
Demikian menghijau
Bagaikan pengantin baru
Anak gembala, anak gembala
Panjatlah (pohon) belimbing itu!
Biar licin dan susah tetaplah kau panjat
Untuk membasuh pakaianmu
Pakaianmu, pakaianmu,
Terkoyak-koyak di bagian samping
Jahitlah, benahilah!
Untuk menghadap nanti sore mumpung bulan
bersinar terang
Mumpung banyak waktu uang
Bersoraklah dengan sorakan Iya!!”
Menurut Lusia, fungsi yang terdapat pada tembang lir-ilir ini adalah
fungsi religius. Tembang ini memiliki pesan bahwa sebagai umat manusia,
diharapkan mampu bangkit dari keterpurukan untuk lebih mempertebal iman dan
berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan seperti bahagianya pengantin baru. Syair
lagu ini juga meminta si anak gembala untuk memetik buah belimbing yang
diibaratkan dengan perintah sholat lima waktu. Perintah sholat dan juga rukun
islam yang lain juga harus dilakukan dengan sekuat tenaga, apapun halangan dan
resikonya. Meskipun ibarat pakaian terkoyak dan berlubang di sana-sini, namun
sebagai umat, seseorang diharapkan untuk memperbaiki dan mempertebal iman dan
takwa.[21].
Tembang-tembang Sunan Kalijaga juga menciptakan tembang-tembang yang memuat
ajaran spiritual.[22]
Sunan Kalijaga juga menciptakan tembang Sluku-Sluku Bathok. Syair lagu
tersebut adalah sebagai berikut:
Sluku-sluku bathok
Bathoke ela-elo
Si Rama menyang Solo
Oleh olehe payung Motha
Mak jenthit lolo lobah
Wong mati ora obah
Nek obah medeni bocah
Nek urip goleka dhuwit
“Ayun-ayun kepala
Kepalanya geleng-geleng
Si bapak pergi ke Solo
Oleh-olehnya payung Mutha
Secara tiba-tiba bergerak
Orang mati tidak bergerak
Kalau bergerak menakuti orang
Kalau hidup carilah uang”
Menurut Lusia, tembang Sluku-sluku
Bathok mempunyai makna bahwa hidup tidak boleh dihabiskan hanya untuk bekerja.
Waktu juga untuk istirahat, waktu
istirahat digunakan untuk menjaga jiwa dan raga agar selalu dalam kondisi
seimbang. Sluku-sluku Bathok, artinya bathok kepala kita perlu
beristirahat untuk memaksimalkan kemamapuannya. Bathoke ela-elo berarti
dengan cara berdzikir. Ela-elo sama dengan laa ilaa ha illallah, mengingat
Allah akan mengendurkan saraf di otak. Lalu si Rama menyang solo berarti
siram atau mandilah atau bersuci menuju solo (sholat), lalu dirikanlah sholat. Oleh-olehe
payung mutha mengartikan yang sholat akan mendapatkan perlindungan (payung)
dari Allah. Kalau Allah sudah melindungi, maka tidak ada satupun di dunia ini
yang kuasa menyakiti kita. Tak jendhit lolobah berarti kematian itu
datangnya tiba-tiba dan tak ada yang tahu, tak bisa dimajukan atau dimundurkan
walau sesaat, sehingga saat kita masih hidup, kita harus senantiasa bersiap dan
waspada untuk mengumpulkan amal kebaikan sebagai bekal untuk dibawa mati kelak.
Yen obah medheni bocah artinya ketika kematian datang, maka segala
kesempatan beramal terputus. Banyak yang minta dihidupkan kembali, tapi Allah
tidak mengijinkan, karena bentuknya juga akan menakutkan orang lain yang masih
hidup, dan mudharatnya juga lebih besar. Yen urip goleke duwit berarti
kesempatan terbaik untuk berkarya, meraih hidup yang mulia, membahagiakan orang
tua, menyumbang bagi tegaknya agama Allah adalah saat ini. Nilai pendidikan
yang bisa diambil dari lirik lagu ini adalah cinta kepada Tuhan dan alam
semesta beserta isinya.
Masih menurut Lusia, fungsi yang terdapat pada tembang ini adalah fungsi
religius dengan pesan, bahwa manusia hendaklah membersihkan batinnya dan
senantiasa berzikir mengingat Allah dengan (ela elo). Ela elo dimaksud
adalah dengan menggelengkan kepala sambil mengucapkan lafal laa illa ha illallah
di saat susah maupun senang dan menerima musibah maupun kenikmatan, karena
hidup mati manusia di tangan Allah.[23]
5)
Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Gunung
Jati
Salah satu strategi dakwah yang digunakan Sunan Gunung Jati adalah dengan
memperkuat hubungan dengan tokoh-tokoh penting yang ada Cirebon melalui
Pernikahan. Dengan memperkuat hubungn dengan tokoh-tokoh di Cirebon Sunan
Gunung Jati menjadi Mudah dan bisa diterima dengan baik. Karena sebelum Sunan
Gunung Jati berdakwah masyarakat Cirebon menganut pada tokoh-tokoh yang ada.
Tapi setelah Sunan Gunung Jati berdakwah di Cirebon masyarakat merespon dengan
baik. Sehingga menerima dakwah pendidikan dengan baik.
6)
Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Drajat
Sunan drajat6 dikenal dengan wali yang sangat merakyat, karena Sunan Drajat
menggunakan strategi dakwah dengan peduli dan pendekatan kepada Masyarakat keas
bawah atau masyarakat miskin.setelah memberi perhatian kepada kepada kalangan
bawah Sunan Drajat memberi pemahaman dan ajaran tentang islam. Ajaran tersebut lebih
menekankan pada etos kerja atau kegigihan dakam bekerja, solideritas sosial,
dan gotong royong. Selain itu Sunan Drajat dikenal masyarakat sebagai pepali
pitu tujuh dasar ajaran), yang mencakup tujuan falsafaah yang dijadikan
pijakan dalam kehidupan sebagaimana berikut:
a.
Memangun resap tiyasing sasama (kita selalu membuat
orang senang hati orang lain)
b.
Jroning suka kudu eling lan waspodo (dalam suasana
gembira hendaknya tetap ingat Tuhan dan Selalu waspada)
c.
Laksitaning subrata tan nyipta marang pringga bayaning
lampah (dalam upaya mencapai cita-cita luhur jangan menghiraukan halangan dan
rintangan.
d.
Meper hardaning pancad riya (senantiasa berjuang
menekan gejolak nafsu-nafsu indrawi).
e.
Heneng-hening-henung (dalam diam akan dicapai
keheningan dan didalam keheningan akan mencapai jalan kebebasan mulia).
f.
Mulia guna panca waktu (pencapaian kemuliaan lahir
batin diciptakan menjalani salat lima waktu).
g.
Menehono teken marang wong kang wutoh.
Menehono mangan marang wong kang luwe.
Menehono busana marang wong kang wuda.
Menehono pangiyub marang wong kang kaudanan.
(berikan tongkat kepada orang buta. Berikan makanan kepada orang yang
lapar. Berikan pakaian kepada orang yang tidak memiliki. Berikan tempat
berteduh kepada orang oraang yang kehujanan).
Dengan ajaran tersebut Sunan Drajat mendapat pengikut yang banyak, karena
ajarannya mudah dan sederhana.
7)
Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Kudus
Dakwah Sunan Kudus dengan cara mendekati masyarakat untuk memahami apa yang
diharaapkan masyarakat. Dan dalam hal dakwah langsung terjun dalam masyarakat
Sunan Kudus banyak memanfaatkan jalur seni dan budaya beserta teknologi terapan
yang bersifat tepat guna, yang dibutuhkan masyarakat. Menurut primbon Prof.
K.H.R. Moh. Adnan, sebagai anggota walisongo, Raden Ja’far Shodiq dalam menjalankan dakwahnya mendapat
tugas memberi bimbingan dan keteladanan kepada masyarakat. Lewat pendekat
tersebut dakwah Sunan Kudus dapat diterima dengan baik.
8)
Gerakan Dakwah Pendidikan Sunan Muria
Dalam melakukan dakwah islam, sunan Muria memilih pendekat sebagaimana
dijalankan ayahandanya, Sunan Kalijaga. Tradisi keagamaan lama yang dianut
masyarakat tidak dihilangkan, melainkan diberi warna islam dan dikembangkan
menjadi tradisi keagamaan baru yang khas islam. Demikianlah tradisi bancaan
dengan tumpeng yang bisa dipersembahkan ke tempat-tempat angker diubah menjadi
kenduri, yaitu upacara mengirim do’a kepada leluhur yang menggunakan do’a-do’a
islam di rumah orang yang menyelenggarakan kenduri. Dalam usaha menyiarkan
ajaran islam sesuai pemaham masyarakat, sunan muria mengikuti jejak Sunan
kalijaga dan wali-wali yang lain, yaitu melalui bahasa tembang. Melalui cara
tersebut dakwah Sunan Muria dapat diterima dengan baik, sehingga masyaraakat
Jawa mengikuti ajaran tersebut.
9)
Gerakan Dakwah Pendidikan Raden Patah
Dakwah yang dilakukan oleh Raden Patah adalah dengan mengeluarkan undang-undangan
dalam kesultannanya. Dengan adanya undang-undang yang ditetapkan, masyarakat
mematuhi atau mengikuti undang-undang tersebut. Undaang-undang yang dibuat
berisi tentang ajaran pendidikan islam.[24]
C. Simpulan
Melaksanakan dakwah pendidikan yang dilakukan oleh Walisongo dalam
mendidik masyarakat Jawa supaya menjadi masyarakat yang mengetahui dan paham
tentang ajaran islam. Walisongo melakukan dakwah di tanah Jawa dengan caara
melakukan pendekatan terhadap masyarakat Jawa, melakukan Asimiliasi kebudayaan,
dan melalui metode atau cara-cara yang tetap melibatkan kebudayaan masyarakat
sebelumnya.
Sarana yang digunakan
Walisongo untuk berdakwah adalh dengan menggunakan Wayang, tembang-tembang,
gamelan,pendekatan budaya ataupun
pendekatan lainnya yang membuat masyarakat Jawa menjadi nyaman dan tau tentang
pendidikan yang ada dalam islam. Melalui penyajian dakwah pendidikan yang menyenangkan, Walisongo berhasil menyiarkan
pendidikan islam dalam masyarakat Jawa tanpa
adanya pertumpahan darah dan dilakukan secara damai.
Untuk menyelenggarakan dakwah pendidikan dalam kebudayaan
masyarakat jawa, diperlukan pendekatan kebudayaan dengan memahami kebudayaan
Jawa.
Daftar Pustaka
Buku:
Asrohah , Hanun. 1999. Sejarah
Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu.
Sunyoto Agus. 2012. Atlas Walisongo; Buku Pertama yang
Mengungkapkan Walisongo Sebagai Fakta Sejarah. Malang: PT. Pustaka IIMaN,
Trans Pustaka, dan LTN PBNU.
Jurnal:
Ashadi. 2013. Dakwah Wali Songo
Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Perubahan Bentuk Arsitektur Mesjid di Jawa. Jurnal
Arsitektur NALARs, Vol. 12, No. 2.
Fadli , Failasuf Dan Nanang Hasan Susanto. 2017. Model Pendidikan Islam Kreatif Walisongo,
Melalui Penyelenggaraan Pendidikan Yang Menyenangkan. Jurnal Penelitian,
Vol. 11, No. 1.
Fatkhan, Muh. 2003. Dakwah Budaya Walisongo (Aplikasi
Metode Dakwah Walisongo di Era Multikultural). Jurnal Aplikasia,Vol. IV,
No. 2.
Juwariyah. 2009. Pengertiandan Komponen-Komponen Pendidikan Islam
Perspektif Mahmud Yunus Dan Muhammad 'Athiyah Al-Abrasyi (Tinjauan Analisis
Kritis). Mukaddimah, Vol. XV,
No.26.
Pujiyanto , Tri. Peranan Kesenian Rebana Walisongo Sragen
Dalam Strategi Dakwah Kh.Ma’ruf Islamuddin. Jurnal Universitas Sebelas
Maret.
Solikin, Syaiful M. Dan Wakidi, Metode
Dakwah Sunan Kalijaga Dalam Proses Islamisasi Di Jawa. Fkip Unila.
Tajuddin,
Yuliyatun. 2014. Komunikasi Dakwah Walisongo Perspektif
Psikosufistik. Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam AT-TABSYIR, Vol. 2, No. 2.
Zuhriy , M.
Syaifuddien. 2011. Budaya Pesantren
Dan Pendidikan Karakter Pada Pondok Pesantren Salaf. Wa lisongo, Vol. 19,
No. 2.
[1]
Muh.
Fatkhan, Dakwah Budaya Walisongo (Aplikasi Metode Dakwah Walisongo di Era
Multikultural). Jurnal Aplikasia,Vol. IV, No. 2 Desember 2003. h. 122-124
[2] Failasuf Fadli
Dan Nanang Hasan Susanto, Model Pendidikan Islam Kreatif Walisongo, Melalui
Penyelenggaraan Pendidikan Yang Menyenangkan. Jurnal Penelitian, Vol.
11, No. 1, Februari 2017. h. 27-28
[3]
Hanun Asrohah, Sejarah
Pendidikan Islam. (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 2-4
[4]
Juwariyah,
Pengertiandan Komponen-Komponen
Pendidikan Islam Perspektif Mahmud Yunus Dan Muhammad 'Athiyah Al-Abrasyi
(Tinjauan Analisis Kritis). Mukaddimah,
Vol. XV, No.26 Januari-Juni 2009. h. 76
[5] Ashadi, Dakwah
Wali Songo Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Perubahan Bentuk Arsitektur Mesjid
di Jawa. Jurnal Arsitektur NALARs, Vol. 12,
No. 2 Juli 2013. h. 3
[6] Yuliyatun Tajuddin, Komunikasi Dakwah Walisongo Perspektif
Psikosufistik. Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam AT-TABSYIR, Vol. 2, No. 2, Juli – Desember 2014. h. 98
[7]
Ashadi, Dakwah Wali
Songo Pengaruhnya Terhadap Perkembangan Perubahan Bentuk Arsitektur Mesjid di
Jawa. Jurnal Arsitektur NALARs, Vol. 12,
No. 2 Juli 2013. h. 3-5
[8]
Muh. Fatkhan, Dakwah Budaya Walisongo (Aplikasi Metode
Dakwah Walisongo di Era Multikultural). Jurnal Aplikasia,Vol. IV, No. 2
Desember 2003. h. 124-127
[9] M. Syaifuddien Zuhriy, Budaya Pesantren Dan Pendidikan Karakter Pada
Pondok Pesantren Salaf. Walisongo, Vol. 19, No. 2, November 2011. h. 291
[10]
Hanun Asrohah, Sejarah
Pendidikan Islam. (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 187
[11] Muh.
Fatkhan, Dakwah Budaya Walisongo
(Aplikasi Metode Dakwah Walisongo di Era Multikultural). Jurnal
Aplikasia,Vol. IV, No. 2 Desember 2003. h. 127-132
[12] M. Syaifuddien Zuhriy, Budaya
Pesantren Dan Pendidikan Karakter Pada Pondok Pesantren Salaf. Wa lisongo,
Vol. 19, No. 2, November 2011. h. 290
[13] Tri Pujiyanto, Peranan
Kesenian Rebana Walisongo Sragen Dalam Strategi Dakwah Kh.Ma’ruf Islamuddin.
Jurnal Universitas Sebelas Maret. h. 3-5
[14]
Yuliyatun
Tajuddin, Komunikasi Dakwah Walisongo Perspektif Psikosufistik. Jurnal
Komunikasi Penyiaran Islam AT-TABSYIR, Vol.
2, No. 2, Juli – Desember 2014. h. 112
[15]Agus Sunyoto, Atlas Walisongo;
Buku Pertama yang Mengungkapkan Walisongo Sebagai Fakta Sejarah. (Malang:
PT. Pustaka IIMaN, Trans Pustaka, dan LTN PBNU, 2012), hlm. 128
[16] Muh. Fatkhan, Dakwah
Budaya Walisongo (Aplikasi Metode Dakwah Walisongo di Era Multikultural). Jurnal
Aplikasia,Vol. IV, No. 2 Desember 2003. h. 2
[17]
Agus Sunyoto, Atlas
Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkapkan Walisongo Sebagai Fakta Sejarah.
(Malang: PT. Pustaka IIMaN, Trans Pustaka, dan LTN PBNU, 2012), hlm.123- 222
[18] Solikin, Syaiful
M. Dan Wakidi, Metode Dakwah Sunan Kalijaga Dalam Proses Islamisasi Di Jawa.
Fkip Unila. h. 6-7
[19] Failasuf Fadli Dan Nanang Hasan
Susanto, Model Pendidikan Islam Kreatif Walisongo, Melalui Penyelenggaraan
Pendidikan Yang Menyenangkan. Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1, Februari
2017. h. 36-37
[20] Solikin, Syaiful
M. Dan Wakidi, Metode Dakwah Sunan Kalijaga Dalam Proses Islamisasi Di Jawa.
Fkip Unila. h. 6
[21] Failasuf Fadli Dan Nanang Hasan
Susanto, Model Pendidikan Islam Kreatif Walisongo, Melalui Penyelenggaraan
Pendidikan Yang Menyenangkan. Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1,
Februari 2017. h. 38-39
[22]
Agus Sunyoto, Atlas
Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkapkan Walisongo Sebagai Fakta Sejarah.
(Malang: PT. Pustaka IIMaN, Trans Pustaka, dan LTN PBNU, 2012), hlm. 222
[23] Failasuf Fadli Dan Nanang Hasan
Susanto, Model Pendidikan Islam Kreatif Walisongo, Melalui Penyelenggaraan
Pendidikan Yang Menyenangkan. Jurnal Penelitian, Vol. 11, No. 1,
Februari 2017. h. 41
[24]
Agus Sunyoto, Atlas Walisongo; Buku Pertama yang Mengungkapkan Walisongo
Sebagai Fakta Sejarah. (Malang: PT. Pustaka IIMaN, Trans Pustaka, dan LTN
PBNU, 2012), hlm. 382
Tidak ada komentar:
Posting Komentar