Rabu, 28 November 2018

Sejarah dan Perkembangan Bimbingan Konseling




Sejarah dan Perkembangan Bimbingan Konseling

A.    Pengertian Bimbingan dan Konseling
            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bimbingan diartikan sebagai petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu. Sedangkan Konseling adalah pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan metode psikologis. Konseling juga bisa diartikan sebagai pemberian bantuan oleh konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap diri sendiri meningkat dalam memecahkan masalah.
            Bila kita merujuk kepada kamus tersebut, bimbingan konseling adalah petunjuk atau penjelasan yang diberikan oleh yang ahli kepada seseorang dengan metode psikologis sehingga seseorang semakin memahami dirinya agar dapat menghadapi suatu masalah dengan baik.
            Dalam Peraturan Pemerintahan Nomor 28/1990, yakni pasal 25 ayat 1, disebutkan, “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenali lingkungan, dan merencanakan masa depan”. Dengan demikian bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan kepada anak didik agar dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri dan bertindak dengan baik sesuai dengan perkembangan jiwanya. Pemberian bantuan dalam bimbingan dan konseling ini dilakukan secara terencana, termasuk menggali segala hal yang terkait dengan anak didik, berdasarkan identifikasi kebutuhan mereka, tujuan pendidikan dan harapan dari orangtua peserta didik.[1]

B.     Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) Secara Umum
Latar belakang perkembangan profesi konseling tidak dapat dipisahkan dari dua jalur penanganan terhadap masalah-masalah yang dihadapi masyarakat Barat, yaitu tradisi gangguan mental dan penanganan masalah-masalah pendidikan dan pekerjaan di sekolah.[2]
Evolusi profesi konseling dapat dapat terlihat pada rangkaian perjalanan profesi ini yang disusun secara kronologis sebagai berikut:
1.      Era Tahun 1900-1909 (Era perintisan)
Tiga tokoh utama pada periode ini adalah Jesse B. Davis, Frank Parsons dan Clifford Beers. Davis adalah orang pertama yang mengembangkan program bimbingan yang sistematis di sekolah-sekolah. Pada tahun 1907, sebagai pejabat yang bertanggung jawab pada the Grand Rapids (Machigan) school sistem.ia menyarankan agar guru kelas yang mengajar English Composition untuk mengajar bimbingan satu kali seminggu yang bertujuan untuk mengembangkan karakter dan mencegah terjadinya masalah. Sementara itu, Frank Parsons di Boston melakukan hal yang hampir sama dengan Davis. Ia memfokuskan pada program pengembangan dan pencegahan. Ia dikenal karena mendirikan Boston’s Vocational Bureau pada tahun 1908. Berdirinya biro ini mempresentasikan langkah maju di institusionalisasikannya bimbingan karier (vocational guidance).
Pada tahun yang sama ketika Frank Parsons mendirikan Vocational Bureau (1908), William Heyle juga mendirikan Community Psychiatric Clinic untuk pertama kalinya. Selanjutnya, The Juvenille Psycopathic Institute didirikan untuk memberikan bantuan kepada para pemuda di Chicago yang mempunyai masalah. Dalam keadaan tersebut terlibat pula para psikolog. Tentu saja tidak mungkin berbicara soal kesehatan mental tanpa melibatkan orang-orang yang cukup terkenal, seperti Sigmund Freud dan Joseph Breur.[3]
2.      Era Tahun 1910-1970
Pada era ini konselin mulai di instusionalisasikan dengan didirikannya the National Vocational Guidance Association (NVGA) pada tahun 1913. Selain itu pemerintah Amerika serikat mulai memanfaatkan pelayanan bimbingan untuk membantu veteran perang.[4]
Istilah bimbingan (guidance) ini kemudian menjadi label populer bagi gerakan konseling di sekolah-sekolah selama hampir 50 tahunan. Program bimbingan yang terorganisasikan mulai muncul dengan frekuensi tinggi di jenjang SMP sejak 1920-an, dan lebih intensif lagi di jenjang SMA dengan pengangkatan guru BK yang khusus di pisahkan untuk siswa laki-laki dan siswa perempuan. Titik inilah era dimulainya pemfungsian disiplin, kelengkapan daftar hadir selama satu tahun ajaran dan tanggung jawab administrasi lainnya. Kibatnya banyak program pendidikan dekade ini menitikberatkan pada upaya membantu siswa-siswa yang mengalami kesulitan akademis atau pribadi dengan mengirimkan mereka ke guru BK untuk mengubah perilaku atau memperbaiki kelemahan.
Selain jenjang SMP dan SMA, gerakan konseling untuk SD tampaknuya juga dimulai di akhir dekade 1920-an hingga awal dekade 1930-an, dipic oleh tulisan-tulisan dan kerja keras William Burnham yang menekankan peran guru untuk memajukan kesehatan mental anak yang memang banyak diabaikan diperiode tersebut.
Pada dekade 1940-an ditandai munculnya teori konseling Non-Directive yang dipelopori oleh Carl Rogers. Ia mempublikasikan buku yang berjudul Counseling ang Psychotherapy pada tahun 1942. Pada tahun 1950-an muncul pula berbagai orgaisasi konseling yaitu the American Personnel and Guidance Association (APGA), selanjutnya disahkannya the National Defense Education Act (NDEA) pada tahun 1958. Umdang-undang ini memberikan dana bagi sekolah untuk meningkatkan program konseling sekolah. Konseling mulia melakukan diversifikasi ke area yang lebih luas diawali pada tahun 1970. Konseling mulai berkembang di luar sekolah seperti di lembaga-lembaga komunitas dan pusat-pusat kesehatan mental.
3.      Era Tahun1980-an
Dekade ini profesi konseling sudah mulia berkembang dengan munculnya standarisasi training dan sertifikasi. Pada tahun 1981 dibentuk the Council for Accreditation of Counseling and Related Educationa Program (CACREP). CACPREP berfungsi untuk melakukan standarisasi pada program pendidikan konseling di tingkat master dan doktor pada bidang konseling sekolah, konseling komunitas, konseling kesehatan mental, konseling perkawinan dan keluarga, dan konseling di Perguruan Tinggi.
4.      Era Tahun 1990-an
Pada akhir ke-19-an, spesialis psikiatri telah mendapat tempat berdampingan dengan spesialis pengobatan lain. Dengan makin stabilnya posisi psikiatri dalam penangan gangguan psikologis atau yang lebih dikenal dengan sakit mental, muncul lah psikiatri sebagai spesialisasi baru. Spesialisasi baru ini dipelopori oleh Van Ellenberger Renterghem dan Van Eeden.
Selama tahun 1980-an dan 1990-an, sejumlah permasalahan sosial mempengaruhi anak-anak yang pada gilirannya mengakselerasi pertumbuhan konseling SD. Isu-isu seperti penyalahgunaan obat, penganiayaan anak, pelecehan seksual dan pengabaian anak, plus meningkatnya minat dan atensi, bagi pencegahannya mengarah kepada pemandatan konseling SD.[5]
C.    Sejarah Perkembangan Bimbingan dan Penyuluhan (Konseling) di Indonesia
Kegiatan bimbingan pada hakikatnya telah berakar dalam seluruh kehidupan dan perjuangan bangsa Indonesia. Akan tetapi perlu diakui bahwa bimbingan yang bersifat ilmiah dan profesional masih belum berkembang secara mantap atas dasar falsafah Pancasila. Berikut ini akan dibahas mengenai perkembangan usaha bimbingan dalam pendidikan di Indonesia.
1.      Sebelum kemerdekaan
Masa sebelum kemerdekaan yaitu pada masa penjajahan Belanda dan Jepang, kehidupan rakyat Indonesia berada dalam cengkeraman penjajah (Pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan penjajah). Para siswa dididik untuk mengabdi untuk kepentingan penjajah.dalam situasi seperti ini upaya bimbingan sudah tentu diarahkan bagi perwujudan tujuan pendidikan masa itu yaitu menghasilkan manusia pengabdi penjajah. Akan tetapi, rasa nasionalisme rakyat Indonesia ternyata sangat tebal sehingga upaya penjajah banyak mengalami hambatan.
Rakyat Indonesia yang cinta akan nasionalisme dan kemerdekaan berusaha untuk memperjuangkan kemandirian bangsa Indonesia melalui pendidikan. Salah satu diantaranya adalah Taman Siswa yang dipelopori oleh K. H. Dewantara yang dengan gigih menanamkan nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut pandangan bimbingan hal tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan bimbingan.
2.      Dekade 40-an (Perjuangan)
Dalam bidang pendidikan, pada dekade ini lebih banyak ditandai dengan perjuangan merealisasikan kemerdekaan melalui pendidikan. Masalah kebodohan dan keterbelakangan merupakan masalah besar dan tantangan yang paling besar bagi pendidikan pada saat itu. Tetapi yang lebih mendalam adalah mendidik bangsa Indonesia agar memahami dirinya sebagai bangsa yang merdeka sesuai dengan jiwa pancasila dan Uud 1945. Hal ini pulalah yang menjadi fokus utama dalam bimbingan pada saat itu.
3.      Dekade 50-an (Perjuangan)
Kegiatan bimbingan pada masa dekade ini lebih banyak tersirat dalam berbagai kegiatan pendidikan. Upaya membantu siswa dalam mencapai prestasi lebih banyak dilakukan oleh guru di kelas atau di luar. Akan tetapi, pada hakikatnya bimbingan telah tersirat dalam pendidikan dan benar-benar menghadapi tantangan dalam membantu siswa di sekolah agar dapat berprestasi meskipun dalam situasi yang amat darurat.
4.      Dekade 60-an (Perintisan)
Memasuki dekade 60 suasana politik kurang begitu menguntungkan dengan klimaksnya pemberontakan G 30 S/ PKI tahun 1965. Akan tetapi, dalam metode ini pula lahir Orde Baru tahun1966, yang kemudian meluruskan dan menegakkan serta ini sudah mulai mantap dalam merintis ke arah terwujudnya suatu sitem pendidikan nasional.
Keadaan diatas memberikan tantangan bagi keperluan layanan bimbingan dan konseling di sekolah sebagai salah satu kelengkapan sistem. Di sinilah timbul tantangan untuk mulai merintis pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling yang terprogram dan terorganisasi dengan baik.
5.      Dekade 70-an (Penataan)
Kelahiran orde baru telah banyak menyadarkan bangsa Indonesia akan kelemahan di masa lampau dan kesediaan memperbaiki di masa yang akan datang melalui pembangunan. Repelita pertama mulai dicanangkan dilaksanakan dalama awal dekade ini, dan dilanjutkan dalam dekade-dekade selanjutnya. Pembangunan dalam bidang pendidikan merupakan salah satu peunjang pembangunan nasional. Keadaan tersebut memberikan tantangan dan peluang besar untuk upaya penataan bimbingan baik dalam aspek konseptual maupun operasional.
6.      Dekade 80-an (Pemantapan)
Setelah melalui penataan dalam dekade 70-an, maka dalam dekade ini bimbingan diupayakan agar mantap. Pemantan terutama diusahakan untuk menuju kepada perwujudan bimbingan yang profesional. Dengan demikian, maka upaya-upaya dalan dekade 80-an lebih menarah kepada keprofesionalisasi yang lebih mantap.[6]
D.    Faktor- faktor Pendorong Perkembangan Konseling di Indonesia
Perkembangan Konseling di Indonesia terutama di dalam lingkungan sekolah-sekolah umum secara umum dapat diterima dengan baik dengan alasan penilaian  dilakukan secara kepentingan idividual. Pada awalnya berkembang dalam lingkungan sekolah karena di lingkungan sekolah tersebut banyak terjadi kasus-kasus pada pola pikir, pola asuh, dan perilaku anak-anak di dalam menghadapi pelajaran, dan tata guru cara guru yang mengajar, pencetus proses konseling disekolah dikarenakan kasus yang bervariatif. Namun pada akhirnya mempunyai pengaruh besar pada proses pembelajaran disekolah.
Faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan proses konseling disekolah adalah sebagai berikut;
1.      Pada diri individu (pengaruh Interpersonal) yaitu pada masa-masa perkembangan remaja di usia yang kritis dimana individu membutuhkan bimbingan secara serius.
2.      Pada kondisi luar individu (eksternal individu) akibat dari informasi, yang berorientasi pada kondisi nilai demokrasi, pada nilai humanities, versusu nilai pragmatis (khususnya dibiidang ekonomi dan sosial) ini yang mempunyai pengaruh besar pada kehidupan remaja.


3.      Hubungan dengan potensial (kemampuan) banyak terjadi;
a.       Krisis pada remaja misalnya kegagalan sekolah, kegagalan pergaulan, pacaran, kegagalan penyalahgunaan obat bius (Narkoba) diperlukan konseling tipe krisis.
b.      Konseling tipe Fasilitatif, didalam menghadapi masa-masa kritis dan kemungkinan mendapatkan kesulitan di dalam memahami diri sendiri secara pribadi, untuk dapat mengatasi pergaulan lingkungan didalam pengambilan keputusan sekolah (akademik).
c.       Konseling tipe Preventif, untuk suatu kondisi pencegahan terhadap kesulitan pergaulan yang di hadapi didalam rangsangan seksual.
d.      Konseling Development (pengembangan) di dalam menopang suatu kelancaran perkembangan individual siswa, sperti pengembangan akan kemandirian, percaya diri, perkembangan karier dan akademik.[7]
E.     Tujuan Bimbingan dan Konseling
            Sebagaimana yang telah dijelaskan pada urain terdahulu bahwa bimbingan dan konseling menempati bidang pelayanan pribadi dalam keseluruhan proses dan kegiatanpendidikan. Dalam hal ini pelayanan bimbingan dan konseling diberikan kepada siswa “dalam rangka upaya agar siswa dapat menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”.
            Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi, dimaksud agar peserta didik, mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri serta menerimanya secara positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut.
            Bimbingan dalam rangka mengeal lingkungan dimaksud agar peserta mengenal lingkungannya secara obyektif, baik lingkungan sosial dan ekonomi, lingkungan budaya yang sangat sarat dengan nilai-nilai dan norma-norma maupun lingkungan fisik dan menerima berbagai kondisi lingkungan itu secara positif dan dinamis pula.
            Sedangkan bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan dimaksudkan agar peserta didik mampu mempertimbangkan keputusan tentang masa depan dirinya, baik yang menyangkut bidang pendidikan, bidang karier maupun bidang budaya, keluarga dan masyarakat.[8]
            Tujuan pelayanan bimbingan ialah supaya sesama manusia mengatur kehidupan sendiri, menjamin perkembangan dirinya sendiri seoptimal mungkin,memikul tanggung jawab sepenuhnya atas arah hidupnya sendiri, menggunakan kebebasannya sebagai manusia secara dewasa dengan berpedoman pada cita-cita yang mewujudkan semua potensi yang baim padanya, dan menyelesaikan semua tugas yang dihadapi dalam kehidupan ini secara memuaskan. Pelayanan bimbingan mempunyai tujuan supaya orang yang dilayani menjadi mampu menatur kehidupannya sendiri, memiliki pandangannya sendiri dan tidak sekedar membebek pendapat orang lain, mengambil sikap sendiri, dan berani menanggung sendiri akbiat dari tindakan tindakannya. Bantuan yang bertujuan  demikian bersifat psikis atau psikologis, karena berperan langsung terhadap alam pikiran dan perasaan seseorang serta mendorongnya untuk meninjau dirinya sendiri dan pososinya didalam lingkungan hidup.[9]
            Menurut Rohman Natawidjaja bimbingan dilaksanakan dengan tujuan untuk membantu individu  dalam mencapai hal-hal sebagai berikut:
1. Kabahagian Hidup Pribadi;
2. Kehidupan yang produktif dan efektif dalam masyarakat;
3. Hidup bersama dengan individu lain;
4. Harmonis antara individu dan kemampuan yang dimilikinya.
            Sebagai barometer dari tujuan bimbingan diatas dianggap berhasil apabila dapat mencapai keempat tujuan itu secara menyeluruh. Adapun menurut mortensen tujuan bimbingan identik dengan tujuan sekolah, yaitu tercapainya perkembangan individu dengan optimal sesuai dengan kemampuan, minat dan kebutuhannya.
            Sementara Erwin R. Corler mengemukakan bahwa kebutuhan akan perlunya bimbingan yaitu untuk memenuhi adanya bermacam-macam kebutuhan yang terdapat pada anak yang berhubungan dengan perilaku anak, kebutuhan emosional anak, kebutuhan fisik anak, kebutuhan yang berhubungan dengan daya cipta anak dan kebutuhan sosial anak. Dalam hal ini tujuan yang akan dicapai sebagai berikut:
1.      Mengembangkan perilaku yang menunjang kegiatan belajar;
2.      Membantu meningkatkan kesadaran diri dan perkembangan perasaan anak;
3.      Membiasakan anak menggunakan alat indranya secara maksimal;
4.      Membimbing fantasi dan daya cipta anak;
5.      Membiasakan anakagar hidup sehat.
      Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa keempat tujuan bimbingan yang dikemukakan cerler yaitu membantu anak untuk belajar lebih efektif dan produktif.[10]
















                [1]Akhmad Muhaimin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah (Jakarta :Ar-Ruzz Media), hal. 10-11
[2] Latipun, Psikologi Konseling, (Malang: Penerbitan UMM, 2006), hlm. 23.
[3] Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta: Andi Offset, 2010), hlm. 15.
[4] Gantina Kumalasari dkk, Teori dan Teknik Konseling, (Jakarta: PT. Indeks, 2011), hlm. 38-39.
[5] Robert L. Gibson dan Marianne H. Mitchelle, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 23.
[6] Hamdani, Bimbingan dan Penyuluhan, (bandung: CV. Pustaka Setia, 2012), hlm. 51-58.
[7] Eva Arifin, Teknik Konseling di Media Massa, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), hlm. 39-40.
[8] Hallen A, Bimbingan dan Konseling (Jakarta: Ciputat Pers, 2002) hal.57-59
[9] W.S Winkel, Bimbingan dan Konseling (Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 1997) hlm. 68-69.
[10] Ahmad Susanto, Bimbingan dan Konseling di Taman Kanak-Kanak (Jakrta : Prenadamedia, 2015) hlm. 7-8

Tidak ada komentar:

Posting Komentar