Sejarah dan Perkembangan Bimbingan Konseling
A. Pengertian
Bimbingan dan Konseling
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, bimbingan diartikan
sebagai petunjuk (penjelasan) cara mengerjakan sesuatu. Sedangkan Konseling
adalah pemberian bimbingan oleh yang ahli kepada seseorang dengan menggunakan
metode psikologis. Konseling juga bisa diartikan sebagai pemberian bantuan oleh
konselor kepada konseli sedemikian rupa sehingga pemahaman terhadap diri
sendiri meningkat dalam memecahkan masalah.
Bila
kita merujuk kepada kamus tersebut, bimbingan konseling adalah petunjuk atau
penjelasan yang diberikan oleh yang ahli kepada seseorang dengan metode
psikologis sehingga seseorang semakin memahami dirinya agar dapat menghadapi
suatu masalah dengan baik.
Dalam Peraturan Pemerintahan Nomor 28/1990, yakni pasal 25 ayat 1,
disebutkan, “Bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam
rangka upaya menemukan pribadi, mengenali lingkungan, dan merencanakan masa
depan”. Dengan demikian bimbingan dan konseling adalah upaya pemberian bantuan
kepada anak didik agar dapat memahami dirinya sehingga sanggup mengarahkan diri
dan bertindak dengan baik sesuai dengan perkembangan jiwanya. Pemberian bantuan
dalam bimbingan dan konseling ini dilakukan secara terencana, termasuk menggali
segala hal yang terkait dengan anak didik, berdasarkan identifikasi kebutuhan
mereka, tujuan pendidikan dan harapan dari orangtua peserta didik.[1]
B.
Sejarah Perkembangan Bimbingan dan
Penyuluhan (Konseling) Secara Umum
Latar belakang perkembangan profesi konseling tidak dapat
dipisahkan dari dua jalur penanganan terhadap masalah-masalah yang dihadapi
masyarakat Barat, yaitu tradisi gangguan mental dan penanganan masalah-masalah
pendidikan dan pekerjaan di sekolah.[2]
Evolusi profesi konseling dapat dapat terlihat pada rangkaian
perjalanan profesi ini yang disusun secara kronologis sebagai berikut:
1.
Era Tahun 1900-1909 (Era perintisan)
Tiga tokoh utama pada periode ini adalah Jesse B. Davis, Frank
Parsons dan Clifford Beers. Davis adalah orang pertama yang mengembangkan
program bimbingan yang sistematis di sekolah-sekolah. Pada tahun 1907, sebagai
pejabat yang bertanggung jawab pada the Grand
Rapids (Machigan) school sistem.ia menyarankan agar guru kelas yang
mengajar English Composition untuk
mengajar bimbingan satu kali seminggu yang bertujuan untuk mengembangkan
karakter dan mencegah terjadinya masalah. Sementara itu, Frank Parsons di Boston
melakukan hal yang hampir sama dengan Davis. Ia memfokuskan pada program
pengembangan dan pencegahan. Ia dikenal karena mendirikan Boston’s Vocational Bureau pada tahun 1908. Berdirinya biro ini
mempresentasikan langkah maju di institusionalisasikannya bimbingan karier (vocational guidance).
Pada tahun yang sama ketika Frank Parsons mendirikan Vocational
Bureau (1908), William Heyle juga mendirikan Community Psychiatric Clinic untuk pertama kalinya. Selanjutnya, The Juvenille Psycopathic Institute didirikan
untuk memberikan bantuan kepada para pemuda di Chicago yang mempunyai masalah.
Dalam keadaan tersebut terlibat pula para psikolog. Tentu saja tidak mungkin
berbicara soal kesehatan mental tanpa melibatkan orang-orang yang cukup
terkenal, seperti Sigmund Freud dan Joseph Breur.[3]
2.
Era Tahun 1910-1970
Pada era ini konselin mulai di instusionalisasikan dengan
didirikannya the National Vocational Guidance Association (NVGA) pada tahun
1913. Selain itu
pemerintah Amerika serikat mulai memanfaatkan pelayanan bimbingan untuk
membantu veteran perang.[4]
Istilah bimbingan (guidance)
ini kemudian menjadi label populer bagi gerakan konseling di sekolah-sekolah
selama hampir 50 tahunan. Program bimbingan yang terorganisasikan mulai muncul
dengan frekuensi tinggi di jenjang SMP sejak 1920-an, dan lebih intensif lagi
di jenjang SMA dengan pengangkatan guru BK yang khusus di pisahkan untuk siswa
laki-laki dan siswa perempuan. Titik inilah era dimulainya pemfungsian
disiplin, kelengkapan daftar hadir selama satu tahun ajaran dan tanggung jawab
administrasi lainnya. Kibatnya banyak program pendidikan dekade ini
menitikberatkan pada upaya membantu siswa-siswa yang mengalami kesulitan
akademis atau pribadi dengan mengirimkan mereka ke guru BK untuk mengubah
perilaku atau memperbaiki kelemahan.
Selain jenjang SMP dan SMA, gerakan konseling untuk SD tampaknuya
juga dimulai di akhir dekade 1920-an hingga awal dekade 1930-an, dipic oleh
tulisan-tulisan dan kerja keras William Burnham yang menekankan peran guru
untuk memajukan kesehatan mental anak yang memang banyak diabaikan diperiode
tersebut.
Pada dekade 1940-an ditandai munculnya teori konseling
Non-Directive yang dipelopori oleh Carl Rogers. Ia mempublikasikan buku yang
berjudul Counseling ang Psychotherapy pada tahun 1942. Pada tahun 1950-an
muncul pula berbagai orgaisasi konseling yaitu the American Personnel and Guidance Association (APGA), selanjutnya
disahkannya the National Defense
Education Act (NDEA) pada tahun 1958. Umdang-undang ini memberikan dana
bagi sekolah untuk meningkatkan program konseling sekolah. Konseling mulia
melakukan diversifikasi ke area yang lebih luas diawali pada tahun 1970.
Konseling mulai berkembang di luar sekolah seperti di lembaga-lembaga komunitas
dan pusat-pusat kesehatan mental.
3.
Era Tahun1980-an
Dekade ini
profesi konseling sudah mulia berkembang dengan munculnya standarisasi training
dan sertifikasi. Pada tahun 1981 dibentuk the
Council for Accreditation of Counseling and Related Educationa Program (CACREP).
CACPREP berfungsi untuk melakukan standarisasi pada program pendidikan
konseling di tingkat master dan doktor pada bidang konseling sekolah, konseling
komunitas, konseling kesehatan mental, konseling perkawinan dan keluarga, dan
konseling di Perguruan Tinggi.
4.
Era Tahun 1990-an
Pada akhir ke-19-an, spesialis psikiatri telah mendapat tempat
berdampingan dengan spesialis pengobatan lain. Dengan makin stabilnya posisi
psikiatri dalam penangan gangguan psikologis atau yang lebih dikenal dengan
sakit mental, muncul lah psikiatri sebagai spesialisasi baru. Spesialisasi baru
ini dipelopori oleh Van Ellenberger Renterghem dan Van Eeden.
Selama tahun 1980-an dan 1990-an, sejumlah permasalahan sosial
mempengaruhi anak-anak yang pada gilirannya mengakselerasi pertumbuhan
konseling SD. Isu-isu seperti penyalahgunaan obat, penganiayaan anak, pelecehan
seksual dan pengabaian anak, plus meningkatnya minat dan atensi, bagi
pencegahannya mengarah kepada pemandatan konseling SD.[5]
C.
Sejarah Perkembangan Bimbingan dan
Penyuluhan (Konseling) di Indonesia
Kegiatan bimbingan pada hakikatnya telah berakar dalam seluruh
kehidupan dan perjuangan bangsa Indonesia. Akan tetapi perlu diakui bahwa
bimbingan yang bersifat ilmiah dan profesional masih belum berkembang secara
mantap atas dasar falsafah Pancasila. Berikut ini akan dibahas mengenai
perkembangan usaha bimbingan dalam pendidikan di Indonesia.
1.
Sebelum kemerdekaan
Masa sebelum kemerdekaan yaitu pada masa penjajahan Belanda dan
Jepang, kehidupan rakyat Indonesia berada dalam cengkeraman penjajah
(Pendidikan diselenggarakan untuk kepentingan penjajah). Para siswa dididik
untuk mengabdi untuk kepentingan penjajah.dalam situasi seperti ini upaya
bimbingan sudah tentu diarahkan bagi perwujudan tujuan pendidikan masa itu
yaitu menghasilkan manusia pengabdi penjajah. Akan tetapi, rasa nasionalisme
rakyat Indonesia ternyata sangat tebal sehingga upaya penjajah banyak mengalami
hambatan.
Rakyat Indonesia yang cinta akan nasionalisme dan kemerdekaan
berusaha untuk memperjuangkan kemandirian bangsa Indonesia melalui pendidikan.
Salah satu diantaranya adalah Taman Siswa yang dipelopori oleh K. H. Dewantara
yang dengan gigih menanamkan nasionalisme di kalangan para siswanya. Dari sudut
pandangan bimbingan hal tersebut pada hakikatnya adalah dasar bagi pelaksanaan
bimbingan.
2.
Dekade 40-an (Perjuangan)
Dalam bidang pendidikan, pada dekade ini lebih banyak ditandai
dengan perjuangan merealisasikan kemerdekaan melalui pendidikan. Masalah
kebodohan dan keterbelakangan merupakan masalah besar dan tantangan yang paling
besar bagi pendidikan pada saat itu. Tetapi yang lebih mendalam adalah mendidik
bangsa Indonesia agar memahami dirinya sebagai bangsa yang merdeka sesuai
dengan jiwa pancasila dan Uud 1945. Hal ini pulalah yang menjadi fokus utama
dalam bimbingan pada saat itu.
3.
Dekade 50-an (Perjuangan)
Kegiatan bimbingan pada masa dekade ini lebih banyak tersirat dalam
berbagai kegiatan pendidikan. Upaya membantu siswa dalam mencapai prestasi
lebih banyak dilakukan oleh guru di kelas atau di luar. Akan tetapi, pada
hakikatnya bimbingan telah tersirat dalam pendidikan dan benar-benar menghadapi
tantangan dalam membantu siswa di sekolah agar dapat berprestasi meskipun dalam
situasi yang amat darurat.
4.
Dekade 60-an (Perintisan)
Memasuki dekade 60 suasana politik kurang begitu menguntungkan
dengan klimaksnya pemberontakan G 30 S/ PKI tahun 1965. Akan tetapi, dalam
metode ini pula lahir Orde Baru tahun1966, yang kemudian meluruskan dan
menegakkan serta ini sudah mulai mantap dalam merintis ke arah terwujudnya
suatu sitem pendidikan nasional.
Keadaan diatas memberikan tantangan bagi keperluan layanan
bimbingan dan konseling di sekolah sebagai salah satu kelengkapan sistem. Di
sinilah timbul tantangan untuk mulai merintis pelaksanaan layanan bimbingan dan
konseling yang terprogram dan terorganisasi dengan baik.
5.
Dekade 70-an (Penataan)
Kelahiran orde
baru telah banyak menyadarkan bangsa Indonesia akan kelemahan di masa lampau
dan kesediaan memperbaiki di masa yang akan datang melalui pembangunan.
Repelita pertama mulai dicanangkan dilaksanakan dalama awal dekade ini, dan
dilanjutkan dalam dekade-dekade selanjutnya. Pembangunan dalam bidang
pendidikan merupakan salah satu peunjang pembangunan nasional. Keadaan tersebut
memberikan tantangan dan peluang besar untuk upaya penataan bimbingan baik dalam
aspek konseptual maupun operasional.
6.
Dekade 80-an (Pemantapan)
Setelah melalui penataan dalam dekade 70-an, maka dalam dekade ini
bimbingan diupayakan agar mantap. Pemantan terutama diusahakan untuk menuju
kepada perwujudan bimbingan yang profesional. Dengan demikian, maka upaya-upaya
dalan dekade 80-an lebih menarah kepada keprofesionalisasi yang lebih mantap.[6]
D.
Faktor- faktor Pendorong
Perkembangan Konseling di Indonesia
Perkembangan
Konseling di Indonesia terutama di dalam lingkungan sekolah-sekolah umum secara
umum dapat diterima dengan baik dengan alasan penilaian dilakukan secara kepentingan idividual. Pada
awalnya berkembang dalam lingkungan sekolah karena di lingkungan sekolah
tersebut banyak terjadi kasus-kasus pada pola pikir, pola asuh, dan perilaku
anak-anak di dalam menghadapi pelajaran, dan tata guru cara guru yang mengajar,
pencetus proses konseling disekolah dikarenakan kasus yang bervariatif. Namun
pada akhirnya mempunyai pengaruh besar pada proses pembelajaran disekolah.
Faktor yang
dapat mempengaruhi perkembangan proses konseling disekolah adalah sebagai
berikut;
1.
Pada diri individu (pengaruh Interpersonal) yaitu pada masa-masa
perkembangan remaja di usia yang kritis dimana individu membutuhkan bimbingan
secara serius.
2.
Pada kondisi luar individu (eksternal individu) akibat dari
informasi, yang berorientasi pada kondisi nilai demokrasi, pada nilai
humanities, versusu nilai pragmatis (khususnya dibiidang ekonomi dan sosial)
ini yang mempunyai pengaruh besar pada kehidupan remaja.
3.
Hubungan dengan potensial (kemampuan) banyak terjadi;
a.
Krisis pada remaja misalnya kegagalan sekolah, kegagalan pergaulan,
pacaran, kegagalan penyalahgunaan obat bius (Narkoba) diperlukan konseling tipe
krisis.
b.
Konseling tipe Fasilitatif, didalam menghadapi masa-masa kritis dan
kemungkinan mendapatkan kesulitan di dalam memahami diri sendiri secara
pribadi, untuk dapat mengatasi pergaulan lingkungan didalam pengambilan
keputusan sekolah (akademik).
c.
Konseling tipe Preventif, untuk suatu kondisi pencegahan terhadap
kesulitan pergaulan yang di hadapi didalam rangsangan seksual.
d.
Konseling Development (pengembangan) di dalam menopang suatu
kelancaran perkembangan individual siswa, sperti pengembangan akan kemandirian,
percaya diri, perkembangan karier dan akademik.[7]
E. Tujuan
Bimbingan dan Konseling
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada urain terdahulu bahwa
bimbingan dan konseling menempati bidang pelayanan pribadi dalam keseluruhan
proses dan kegiatanpendidikan. Dalam hal ini pelayanan bimbingan dan konseling
diberikan kepada siswa “dalam rangka upaya agar siswa dapat menemukan
pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”.
Bimbingan dalam rangka menemukan pribadi, dimaksud agar peserta
didik, mengenal kekuatan dan kelemahan dirinya sendiri serta menerimanya secara
positif dan dinamis sebagai modal pengembangan diri lebih lanjut.
Bimbingan dalam rangka mengeal lingkungan dimaksud agar peserta
mengenal lingkungannya secara obyektif, baik lingkungan sosial dan ekonomi,
lingkungan budaya yang sangat sarat dengan nilai-nilai dan norma-norma maupun
lingkungan fisik dan menerima berbagai kondisi lingkungan itu secara positif
dan dinamis pula.
Sedangkan bimbingan dalam rangka merencanakan masa depan
dimaksudkan agar peserta didik mampu mempertimbangkan keputusan tentang masa
depan dirinya, baik yang menyangkut bidang pendidikan, bidang karier maupun
bidang budaya, keluarga dan masyarakat.[8]
Tujuan
pelayanan bimbingan ialah supaya sesama manusia mengatur kehidupan sendiri,
menjamin perkembangan dirinya sendiri seoptimal mungkin,memikul tanggung jawab
sepenuhnya atas arah hidupnya sendiri, menggunakan kebebasannya sebagai manusia
secara dewasa dengan berpedoman pada cita-cita yang mewujudkan semua potensi
yang baim padanya, dan menyelesaikan semua tugas yang dihadapi dalam kehidupan
ini secara memuaskan. Pelayanan bimbingan mempunyai tujuan supaya orang yang
dilayani menjadi mampu menatur kehidupannya sendiri, memiliki pandangannya
sendiri dan tidak sekedar membebek pendapat orang lain, mengambil sikap
sendiri, dan berani menanggung sendiri akbiat dari tindakan tindakannya. Bantuan yang bertujuan
demikian bersifat psikis atau psikologis, karena berperan langsung
terhadap alam pikiran dan perasaan seseorang serta mendorongnya untuk meninjau
dirinya sendiri dan pososinya didalam lingkungan hidup.[9]
Menurut Rohman Natawidjaja bimbingan dilaksanakan dengan tujuan
untuk membantu individu dalam mencapai
hal-hal sebagai berikut:
1. Kabahagian
Hidup Pribadi;
2. Kehidupan
yang produktif dan efektif dalam masyarakat;
3. Hidup
bersama dengan individu lain;
4. Harmonis
antara individu dan kemampuan yang dimilikinya.
Sebagai barometer dari tujuan bimbingan diatas dianggap berhasil
apabila dapat mencapai keempat tujuan itu secara menyeluruh. Adapun menurut
mortensen tujuan bimbingan identik dengan tujuan sekolah,
yaitu
tercapainya perkembangan individu dengan optimal sesuai dengan kemampuan, minat
dan kebutuhannya.
Sementara
Erwin R. Corler mengemukakan bahwa kebutuhan akan perlunya bimbingan yaitu
untuk memenuhi adanya bermacam-macam kebutuhan yang terdapat pada anak yang
berhubungan dengan perilaku anak, kebutuhan emosional anak, kebutuhan fisik
anak, kebutuhan yang berhubungan dengan daya cipta anak dan kebutuhan sosial
anak. Dalam hal ini tujuan yang akan dicapai sebagai berikut:
1. Mengembangkan
perilaku yang menunjang kegiatan belajar;
2. Membantu
meningkatkan kesadaran diri dan perkembangan perasaan anak;
3. Membiasakan
anak menggunakan alat indranya secara maksimal;
4. Membimbing
fantasi dan daya cipta anak;
5. Membiasakan
anakagar hidup sehat.
Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa keempat tujuan bimbingan
yang dikemukakan cerler yaitu membantu anak
untuk belajar lebih efektif dan produktif.[10]
[2] Latipun, Psikologi Konseling, (Malang:
Penerbitan UMM, 2006), hlm. 23.
[3] Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta: Andi
Offset, 2010), hlm. 15.
[4]
Gantina Kumalasari dkk, Teori dan Teknik Konseling, (Jakarta:
PT. Indeks, 2011), hlm. 38-39.
[5] Robert L.
Gibson dan Marianne H. Mitchelle, Bimbingan dan Konseling, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2010), hlm. 23.
[6] Hamdani, Bimbingan dan Penyuluhan, (bandung: CV. Pustaka Setia, 2012),
hlm. 51-58.
[7] Eva Arifin, Teknik Konseling di Media Massa, (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010),
hlm. 39-40.
[8] Hallen A, Bimbingan
dan Konseling (Jakarta: Ciputat Pers, 2002) hal.57-59
[9] W.S Winkel, Bimbingan
dan Konseling (Jakarta : PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 1997) hlm.
68-69.
[10] Ahmad Susanto,
Bimbingan dan Konseling di Taman Kanak-Kanak (Jakrta : Prenadamedia,
2015) hlm. 7-8
Tidak ada komentar:
Posting Komentar