TAHAP PERKEMBANGAN ANAK PRA SEKOLAH
DAN SEKOLAH
A. Fase Pra Sekolah (Usia Taman Kanak-kanak)
Masa ini disebut juga masa kanak-kanak awal, terbentang antara umur 2-6
tahun. Beberapa cirri perkembangan pada masa ini adalah:
1.
Perkembangan motorik, dengan bertambah matangnya perkembangan
otak yang mengatur system syaraf otot (neuro maskuler) memungkinkan anak-anak
usia ini lebih lincah dan aktif bergerak. Dengan meningkatnya usia, Nampak
perubahanndari gerakan kasar mengarah ke gerakan yang lebih halus yang
memerlukan kecermatan dan
kontrol-kontrol otot yang lebih halus serta koordinasi. Keterampilan dan
koordinasi gerakan harus dilatih dalam hal kecepatannya, ketepatannya dan
keluwesannya.
2.
Perkembangan bahasa dan berfikir, sebagai alat komunikasi dan mengerti
dunianya, kemampuan berbahasa lisan pada anak akan berkembang karena selain
terjadi oleh pematangan dari organ-organ berpicara dan fungsi berfikir, juga
karena lingkungan ikut membantu mengembangkannya.[1]
Anak usia prasekolah merupakan fase perkembangan individu sekitar 2-6
tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau
wanita, dapat mengatur diri dalam buang air kecil (toilet training), dan
mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya).
1. Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik merupakan perkembangan
dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya. dengan meningkatnya pertumbuhan
tubuh, baik menyangkut ukuran berat dan tinggi, maupun kekuatannya,
memungkinkan anak untuk dapat lebih mengembangkan keterampilan fisiknya, dan
eksplorasi terhadap lingkungan dengan tanpa bantuan dari orangtuanya.
Perkembangan fisik adalah perkembangan-perkembangan di mana keterampilan
motorik kasar dan motorik halus sangat berkembang pesat.
a.
Tinggi dan berat, selama masa anak-anak awal tinggi rata-rata
anak bertumbuh 2,5 inci dan berat bertambah antara 2,5 sampai 3,5 kg setiap
tahunnya. pada usia 3 tahun tinggi anak
sekitar 38 inci dan beratnya sekitar 16,5 kg pada usia 5 tahun tinggi anak
mencapai 43,6 inci dan beratnya 21,5 kg.[2]
b.
Perkembangan otak, pada saat bayi mencapai usia 2 tahun ukuran
otaknya rata-rata 75% dari otak orang dewasa dan pada usia 5 tahun ukuran
otaknya telah mencapai ukuran sekitar 90% otak orang dewasa pertumbuhan otak
selama masa awal anak-anak disebabkan oleh pertambahan jumlah dan ukuran urat
syaraf yang berujung di dalam dan di antara daerah-daerah otak.
c.
Perkembangan motorik perkembangan
fisik pada masa anak-anak ditandai dengan berkembangnya keterampilan motorik
baik kasar maupun halus.
2. Perkembangan Intelektual
Menurut
Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berbeda pada periode
praoperasional, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi mental
secara logis. Periode ini ditandai
dengan berkembangnya representasional, atau “symbolic function” yaitu kemampuan
menggunakan sesuatu untuk mempresentasikan sesuatu yang lain dengan menggunakan
simbol dapat juga dikatakan sebagai “semiotic function” atau kemampuan
menggunakan simbol-simbol untuk melambangkan sesuatu kegiatan, benda yang nyata
atau peristiwa.
3. Perkembangan Emosional
Pada
usia 4 tahun anak sudah mulai menyadari akunya, bahwa akunya berbeda bukan aku
(orang lain atau benda). Kesadaran ini diperoleh dari pengalamannya, bahwa
tidak setiap keinginannya dipenuhi oleh orang lain atau benda lain. Bersamaan dengan itu, berkembang
pulau perasaan harga diri yang menuntut pangkuan dari lingkungannya.
Jika lingkungannya tidak mengakui harga diri anak seperti memperlakukan anak
secara keras atau kurang menyayanginya,
maka pada diri anak akan berkembang sikap-sikap keras kepala, atau
menyerah menjadi penurut yang diliputi rasa harga diri kurang dengan sifat
pemalu.
Bridges menjelaskan proses
perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak sebagai berikut:
a.
Pada
saat dilahirkan setia bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan
rangsangan tertentu (bunyi, cahaya, temperatur).
b.
Dalam
periode tiga bulan pertama ketidaksenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan
(melalui penularan) dari emosi orang tuanya.
c.
Dalam
masa 3 sampai 6 bulan pertama ketidak kesenangan itu baru diferensiasi ke dalam
kemarahan, kebencian, dan ketakutan.
d.
Sedangkan
pada masa 9 sampai 12 bulan pertama kegembiraan berat diferensiasi ke dalam
kegairahan dan kasih sayang.
e.
Pada
usia 18 bulan, pertama kecemburuan mulai
didiferensiasi kan dari ketidak senangan tadi.
f.
Pada
usia 2 tahun, kenikmatan dan keasyikan bardiferensiasi dari kesenangan.
g.
Mulai
5 tahun, ketidak kesenangan berdiferensiasi di dalam merasa malu, cemas, dan
kecewa sedangkan kesenangan berat diferensiasi ke dalam harapan dan kasih
sayang.[3]
Beberapa jenis perkembangan emosional
pada masa kanak-kanak yaitu:
a.
Takut, yaitu perasaan yang terancam oleh suatu objek
yang dianggap membahayakan.
b.
Cemas, yaitu perasaan takut yang bersifat khayalan,
yang tidak ada objeknya.
c.
Marah, yaitu perasaan tidak senang atau benci baik
terhadap orang lain diri sendiri atau objek tertentu yang diwujudkan dalam
bentuk verbal ( kata-kata kasar atau makian atau sumpah serupah) maupun
nonverbal (seperti mencubit, memukul, menampar, menendang dan merusak).
d.
Cemburu, yaitu perasaan
tidak senang terhadap orang lain yang dipandang telah merebut kasih sayang dari
seseorang yang telah mencurahkan kasih sayang kepadanya.
e.
Kegembiraan, Kesenangan,
Kenikmatan, yaitu perasaan yang positif,
nyaman, karena terpenuhi keinginannya.[4]
4. Perkembangan Pengamatan dan Fantasi Ingatan
a. Pengamatan
Kegiatan yang
menggunakan alat-alat indra seperti perbuatan melihat, mendengar, mencium,
mengecap, dan meraba adalah kegiatan mengamati. Bermacam-macam perangsang
datang dari luar melalui alat indra
seperti gambaran penginderaan, gambaran fantasi, dan gambaran
pengamatan. Anak-anak belum mampu membedakan itu hanya orang yang telah kritis
yang dapat membedakan itu.
b.
Fantasi
ingatan anak-anak.
Fantasi adalah hal yang
berhubungan dengan khayalan atau dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan
hanya ada dalam benak atau pikiran saja yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Dengan kata lain fantasi adalah imajinasi. Berfantasi adalah kesanggupan jiwa
membentuk tanggapan yang baru dengan pertolongan tanggapan yang telah ada.
Anak-anak sangat luas dan leluasa fantasinya, artinya dapat membuat gambaran
khayalan yang banyak dan luar biasa sehingga orang dewasa menganggapnya
mustahil, misalnya sapu dan tongkat diciptakan menjadi kuda-kudaan kursi
dibalikkan menjadi kereta.[5]
Secara umum, jenis permainan anak dapat dikategorikan ke
dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Permainan aktif, dapat melatih aspek kognitif anak untuk
belajar mengatur dan menentukan strategi dalam meraih kemenangan, serta
mengasah aspek afektif anak untuk bersikap sportif dan belajar menerima
kekalahan ketika ia mengalami kegagalan. Permainan ini biasanya melibatkan
lebih dari satu orang anak.[6]
2. Permainan pasif, permainan ini biasanya dilakukan tanpa teman
yang nyata, bentuk konkrit nya seperti bermain game di komputer. dampak positif dari permainan ini adalah anak
memiliki keterampilan tertentu yang bisa dijadikan suatu proses sehingga anak
tersebut memiliki sebuah keahlian tertentu yang bermanfaat untuk kehidupannya
kelak. sedangkan sisi negatifnya adalah
anak akan mengalami ketergantungan yang berlebihan apabila tidak diatur dan
dibatasi oleh orang tuanya. dalam
kondisi tertentu ketergantungan terhadap permainan pasif bisa menghambat
kreativitas anak. Anak menjadi kurang kreatif karena terbiasa dengan program
yang sudah siap pakai.
3. Permainan fantasi, merupakan
permainan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh anak dalam dunianya. Permainan
ini baik untuk kecerdasan otak kanan karena dengan sendirinya anak belajar
berperan dengan berbagai karakter yang diciptakannya, merasakan sisi emosional
tokoh-tokoh yang ada di dalam imajinasinya, serta lambat laun akan memahami
nilai baik dan buruk sebuah sikap dan sifat. Namun sebaiknya anak diberikan
ruang dan waktu untuk bermain secara berimbang antara permainan aktif, pasif
dan fantasi agar kecerdasan otaknya
seimbang.[7]
c. Perkembangan Bahasa
Perkembangan
bahasa anak usia prasekolah, berkembang secara cepat namun seorang anak bisa
saja gagap ketika berusaha keras memberitahukan sesuatu kepada orang
dewasa. Karena mereka berfikir lebih
cepat dari gerakan mulut untuk mengucapkan apa yang mereka inginkan. Lagi-lagi
anak dapat merasa frustasi dan tertekan karena hal ini. Begitu cara mengucapkan
dan tata bahasa anak sudah mulai akurat
karena akan senang membuat-buat kata-kata sendiri, serta membuat lelucon
menggunakan kakata-kata. Hal tersebut dinamakan metalinguistics.[8]
a)
Masa (2,0-2,6)
1)
Anak sudah mulai dapat menyusun kalimat.
2)
Anak sudah memahami tentang perbandingan.
3)
Anak banyak menanyakan nama dan tempat:
apa, di mana, dan dari mana.
4)
Anak sudah banyak menanyakan menggunakan
kata-kata yang berawalan dan berakhiran.
b)
Masa (2,6-6,0)
1)
Anak
sudah menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya.
2)
Tingkat
anak sudah mulai maju, anak banyak menanyakan soal waktu-sebab akibat,
melalui pertanyaan-pertanyaan kapan, kemana, mengapa, dan bagaimana.
Jean Piaget, ilmuwan
bahasa perancis, meneliti perkembangan bahasa anak-anak dan cara berpikir
anak-anak. Menurutnya bahasa dibagi menjadi dua, yaitu:
a.
Bahasa
egosentris, adalah bentuk bahasa yang lebih menonjolkan
keinginan dan kehendak seseorang.
b.
Bahasa sosial,
adalah bentuk bahasa yang dipergunakan untuk berhubungan dengan orang lain.
d. Perkembangan Sosial
Perkembangan
sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga
diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma
kelompok, moral dan tradisi: meleburkan diri menjadi satu kesatuan saling
berkomunikasi dan bekerjasama.
Perkembangan
perilaku sosial anak ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas
teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota
suatu kelompok, dan merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.
Pada
usia prasekolah (teriutama mulai usia 4 tahun), mereka sudah mulai aktif
berhubungan dengan teman sebayanya. Tanda-tanda perkembangan sosial pada tahap
ini adalah:
a.
Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik
dilakukan keluarga yang maupun dalam lingkungan bermain.
b.
Sedikit demi sedikit anak sudah mulai
tunduk pada peraturan.
c.
Anak mulai menyadari hak atau kepentingan
orang lain.
d.
Anak mulai dapat bermain bersama
anak-anak lain, atau teman sebaya atau (peer group).
Perkembangan sosial
anak sangat dipengaruhi oleh iklim sosio-psikologis keluarganya. Apabila
dilingkungan keluarga tercipta suasana yang harmonis, saling memperhatikan,
saling membantu, (bekerja sama) dalam menyelesaikan tugas keluarga atau anggota
keluarga terjalin komunikasi antar anggota keluarga, dan konsisten dalam
melaksanakan aturan, maka anak akan memiliki kemampuan atau penyesuaian sosial
dalam hubungan dengan orang lain.
Sifat-sifat
kepribadian penting memilih teman. Anak yang lebih besar memberi nilai tinggi
pada kegembiraan keramahan kerjasama kebaikan hati kejujuran kemurahan hati dan
sportivitas menjelang masa kanak-kanak berakhir anak lebih menyukai teman dari
latar belakang sosial ekonomi ras dan agama yang sama khususnya sebagai teman
baik.
e. Perkembangan Bermain
Yang
dimaksud dengan kegiatan bermain di sini adalah suatu kegiatan yang dilakukan
dengan kebebasan batin untuk memperoleh kesenangan. Secara psikologis dan
pedagogis, bermain mempunyai nilai-nilai yang sangat berharga bagi anak,
diantaranya:
a.
Anak memperoleh perasaan senang.
b.
Anak
dapat mengembangkan sikap percaya diri, tanggung jawab, kooperatif
(bekerja sama).
c.
Anak
dapat mengembangkan daya fantasi atau kreativitas.
d.
Anak
dapat mengembangkan sikap sportif, tenggung rasa dan toleran terhadap
orang lain.
e.
Anak
dapat mengenal aturan, atau norma yang berlaku dalam kelompok serta
belajar untuk mendekatinya.
f. Perkembangan Moral
Pada
masa ini, anak sudah memiliki dasar moralitas terhadap kelompok sosialnya
(orang tua, saudara dan teman sebaya). Melalui pengalaman berinteraksi dengan
orang lain. Anak belajar memahami tentang kegiatan atau perilaku mana yang baik
dan tidak baik. Berdasarkan pemahaman itu maka pada saat ini anak harus dilatih
atau dibiasakan mengenai bagaimana dia harus bertingkah laku.
Pada
saat mengenalkan baik-buruk, benar-salah dan sebagainya, orangtuanya atau guru
hendaknya memberikan penjelasan tentang alasannya. Penanaman disiplin dengan
disertai alasan ini diharapkan, akan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri
atau men disiplinkan diri berdasarkan kesadaran sendiri pada anak.[9]
g. Perkembangan Kesadaran Beragama
Biasanya sebelum umur kurang lebih 4 tahun
anak belum menyadari benar perasaan Ketuhanan (keberagamaan). Tuhan bagi anak
masih dalam fantasia tau gambarannya disamakan seperti makhluk/manusia lainnya.
Oleh karena itu pengembangan perasaan ketuhanan anak mulai dapat dimulai dari
tanggapan dan bahasa anak. Mula-mula anak akan selalu kagum pada orang tuanya y
ang selalu sayang dan mencintainya. Hal tersebut penting untuk pembinaan
kejiwaan anak, untuk kemudian anak dibawa pada pemahaman, kekaguman pada yang lebih syang lagi, Maha kasih, Maha
sayang yakni Allah swt.[10]
Kesadaran beragama pada usia ini ditandai
dengan ciri-ciri :
a. Sikap keagamannya bersifat represif (menerima) meskipun banyak bertanya.
b. Pandangan ketuhanannya bersifat anthro pormorph (dipersonifikasi).
c. Penghayatan secara rohaniyah masih superficial (belum mendalam) meskipun
mereka telah melakukan atau berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ritual.
d. Hal ketuhanan dipahamkan secara ideosyncrificial (menurut
khayalan pribadinya) sesuai dengan taraf berpikirnya yang masih bersifat
egosentrik (memandang segala sesuatu dari sudut dirinya.[11]
B. Fase Anak Sekolah (Usia Sekolah Dasar)
Banyak ahli mengganggap masa ini adalah masa tenang atau
masa latent, dimana apa yang telah terjadi dan dipupuk pada masa-masa sebelumnya
akan berlangsung secara terus untuk masa-masa selanjutnya. Dengan memasuki SD, salah satu hal penting yang
dimiliki anak adalah kematangan sekolah yang meliputi kecerdasaan dan keterampilan
motoric,bahasa,tetapi juga hal lain seperti dapat menerima otoritas tokoh lain
di luar orang tuanya, kesadaran akan tugas dan patuh akan peraturan. Ada pun perkembangan yang terjadi
pada masa anak sekolah antara lain:
1. Perkembangan Intelektual
Pada
masa anak sekolah kemampuan intlektual sudah cukup untuk menjadi dasar di
berikanya berbagai kecakapan yang dapat mengembangankan pola pikir pada anak sudah
dapat diberikan dasar-dasar keilmuan seperti menulis, membaca dan menghitung di
samping itu anak juga di berikan pengetahuan tentang manusia, hewan, lingkungan
alam dan sebagainya.
Dalam
mengembangakan kemampuan anak sekolah dalam hal ini guru memeberikan kesempatan
pada siswa untuk mengemukakakan pertanyaan, memberikan komentar atau pendapat
tentang materi yang dijelaskan pada guru.
2. Perkembangan Bahasa
Pada
usia sekolah dasar merupakan masa berkembanganya kemampuan mengenal dan menguasai
perbendaharaan kata. Pada awal masa ini sudah menguasai sekitar 2.500 kata dan pada
masa akhir telah dapat menguasai sekitar 50.000 kata.
Faktor
yang memepengaruhi perkembangan bahasa:
a.
Proses jadi matang,
dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (organ-organ suara) / bicara sudah
berfungsi) untuk berkata-kata.
b.
Proses belajar berarti
anak ini lebih matang untuk berbicara lalu memepelajari bahasa orang lain dengan
meniru ucapan atau kata-kata yang di dengarnya.
Kedua proses ini berlangsung sejak bayi dan anak-anak hingga pada
usia anak-anak memasuki usia dasar, anak tersebut sudah sampai tingkat kalimat
yang lebih sempurna.[12]
3. Perkembangan Pengamatan dan Fantasi
Sejak
anak berumur 5/6 tahun, perhatianya mulai ditunjukan ke dunia luar, ke alam
kenyataan. Fantasi yang senantiasa hidup itu akan mencari lapangan penyaluran seperti
hiburan membaca buku, mendengarkan cerita,membuat sesuatu dan sebagainya.
a. Beberapa
masa fantasi:
1.
Masa dongeng
(4-8tahun). Masa ini adalah masa dimana mulai dalam anak suka dalam mendengarkan
cerita-cerita.
2.
Masa robins oncrusou
(8-12). Masa ini anak mulai tidak menyukai lagi apa yang namanya dongeng yang
tidak masuk akal, namun anak tersebut mulai menyukai cerita yang benar-benar terjadi.
3.
Masa pahlawan
(12-15). Masa ini anak suka membaca buku-buku perjuagan, karya orang-orang
kenamaan yang pernah terjadi.
b. Beberapa
nilai fantasi:
1. Fantasi
dapat di gunakan sebagai hiburan
2. Fantasi
dapat memudahkan anak dalam menerima pelajaran
3. Fantasi
membentuk budi pekerti anak. Bila ia membaca atau menonton film yang baik-baik,
ia akan terdorong meniru danberbuat seperti yang dibaca atau yang ditonton itu.
c. Keburukan
berfantasi:
1. Anak
sering tenggelam kedalam dunia fantasinya, seperti ia suka melamun.
2. Anak
takut menghadapi kenyataan, seperti menjadi orang yang pemalu atau menjadi
seorang pembual dikalangan teman-temanya.
4. Perkembangan sosial
Pada
perkembangan sosial meliputi perkembangan hubungan anak dengan orang di
sekitarnya. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri
dengan norma-norma kelompok, tradisidan moral (agama). Perkembangan social pada
anak ditandai dengan adanya perluasan hubungan, disamping dengan keluarga diamulai
membentuk hubungan dengan teman sebaya. Pada usia ini anak mulai memiliki kesaggupan
menyesuaikan dirinya dengan kelompok, teman sebaya maunpun dengan lingkungan masyarkat
sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan social ini
dapat di manfaatkan dengan memeberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuh
kantenaga fisik (membersihkan kelas dan halaman), maupun tugas yang membutuhkan
pikiran (merncanakan kegiatan camping, membuat laporan stadituor, diskusi).[13]
5. Perkembangan Perasaan atau Emosional Anak
Anak-anak
memiliki prasaan yang lebih kuat pengaruhnya di bandingkan dengan perasaan
orang dewasa. Anak sekolah lekas merasa puas, tampaknya mereka selalu gembira jarang
sekali mereka menyesali perbuatan mereka yang telah dilakukan. Mereka belum mampu
turut merasakan kesusahan orang lain.
a. Perasaan
intelektual, perasaan ini adalah perasaan yang menyertai perbuatan berfikir. Perasaan
intelek erat hubunganya dengan dapat tidaknya menyelesaikan soal-soal
matematika, ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan social dan sebagainya.
b. Perasaan
seksual, sebelum mereka mencapai umur 12 tahun, perasaan seksualnya belum
berkembang, baik perkembangan jasmani maunpun rohaninya pun belum jelas.
c. Perasaan
keindahan, perasaan ini yang timbul ketika individu menghayati sesuatu yang ada
hubunganya dengan indah atau pun buruk. Untuk dapat menetukan mana yang indah
dan buruk di perlukan alat ukur yang di sebut “ cita rasa “. Dalam hal ini
pembawaan dan factor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan“
perasaan keindahan “ pada anak sekolah.
d. Perasaan
ke-agamaan, perasaan yang menyertai individu ketika menghayati hubunganya
dengan tuhan. Perasaan ke-agamaan termasuk bentuk perasaan yang luhur dalam
jiwa manusia perasaan kegamaan menggerakan hati manusia agar ia melakukan
perbuatan-perbuatan yang baik.[14]
6. Perkembangan Moral
Di
masa ini anak mulai mengenal benar salah atau baik buruk pertama kali daril
ingkungan keluarga. Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti
kegiatan atau tuntutan dari orang tua atau tuntutan sekitranya. Masa
perkembangan moral pada diri anak mengalami beberapa tingkatan sebagai berikut:
1. 4-8
tahun, ukuran tata nilai bagi anak adalah sesuatu yang tampak.
2. 8-13
tahun, anak sudah mulai dapat menghargai pendapat atau alas an dari orang lain.[15]
7. Perkembangan Penghayatan Keagamaan
Di
tandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a)
Sifat keagamaan
bersifat preseftif di sertai dengan pengertian.
b)
Pandangan dalam
paham ketuhanan di perolehnya secara akal beradasarkan kaidah-kaidah logika
yang berpedoman pada indicator alam semesta sebagai manifestasi dari
keangungNYA.
c)
Penghayatan
secara rohaniah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya
sebagai keharusan moral.[16]
8. Perkembangan Motorik
Seiring perkembangan fisiknya
yang beranjak matang, maka perkembangan motorik ini sudah ter-koordinasi dengan
baik. Setiap gerakanya sudah selaras dengan kebutuhanya. Oleh karena itu usia ini
merupakan masa yang ideal untuk belajar ketarampilan yang berkaitan dengan
motoric seperti menulis, membaca, menendang, berenang dan lainnya.[17]
[1] Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan
remaja (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2008) hlm. 11-12.
[3]
Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan
Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM, 2018) hlm.141-143.
[4] Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan
Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM, 2018) hlm.144.
[7]
Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan
Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM, 2018) hlm. 145-146.
[9]
Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan
Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM, 2018) hlm.148-152.
[10] Sugeng Sholehudin, Psikologi Perkembangan Dalam
Prespektif Pengantar (Pekalongan: Gama Media, 2008) hlm. 116
[12] Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan
Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM, 2018) hlm.153-154.
[13] Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan
Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM, 2018) hlm. 154- 156.
[14]
Zulkifli L, Psikologi Perkembangan (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2002) hlm.59- 61.
[15]
Sugeng Sholehudin, Psikologi Perkembangan Dalam
Prespektif Pengantar (Pekalongan: Gama Media, 2008) hlm. 116
[16]
Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan
Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM, 2018) hlm. 154-160
Tidak ada komentar:
Posting Komentar