Rabu, 28 November 2018

Tahap Perkembangan Anak Prasekolah dan Sekolah




TAHAP PERKEMBANGAN ANAK PRA SEKOLAH DAN SEKOLAH

A.    Fase Pra Sekolah (Usia Taman Kanak-kanak)
Masa ini disebut juga masa kanak-kanak awal, terbentang antara umur 2-6 tahun. Beberapa cirri perkembangan pada masa ini adalah:
1.    Perkembangan motorik, dengan bertambah matangnya perkembangan otak yang mengatur system syaraf otot (neuro maskuler) memungkinkan anak-anak usia ini lebih lincah dan aktif bergerak. Dengan meningkatnya usia, Nampak perubahanndari gerakan kasar mengarah ke gerakan yang lebih halus yang memerlukan  kecermatan dan kontrol-kontrol otot yang lebih halus serta koordinasi. Keterampilan dan koordinasi gerakan harus dilatih dalam hal kecepatannya, ketepatannya dan keluwesannya.
2.    Perkembangan bahasa dan berfikir, sebagai alat komunikasi dan mengerti dunianya, kemampuan berbahasa lisan pada anak akan berkembang karena selain terjadi oleh pematangan dari organ-organ berpicara dan fungsi berfikir, juga karena lingkungan ikut membantu mengembangkannya.[1]

Anak usia prasekolah merupakan fase perkembangan individu sekitar 2-6 tahun, ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria atau wanita, dapat mengatur diri dalam buang air kecil (toilet training), dan mengenal beberapa hal yang dianggap berbahaya (mencelakakan dirinya).
1.    Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik merupakan perkembangan dasar bagi kemajuan perkembangan berikutnya. dengan meningkatnya pertumbuhan tubuh, baik menyangkut ukuran berat dan tinggi, maupun kekuatannya, memungkinkan anak untuk dapat lebih mengembangkan keterampilan fisiknya, dan eksplorasi terhadap lingkungan dengan tanpa bantuan dari orangtuanya. Perkembangan fisik adalah perkembangan-perkembangan di mana keterampilan motorik kasar dan motorik halus sangat berkembang pesat.
a.    Tinggi dan berat,  selama masa anak-anak awal tinggi rata-rata anak bertumbuh 2,5 inci dan berat bertambah antara 2,5 sampai 3,5 kg setiap tahunnya.  pada usia 3 tahun tinggi anak sekitar 38 inci dan beratnya sekitar 16,5 kg pada usia 5 tahun tinggi anak mencapai 43,6 inci dan beratnya 21,5 kg.[2]
b.    Perkembangan otak,  pada saat bayi mencapai usia 2 tahun ukuran otaknya rata-rata 75% dari otak orang dewasa dan pada usia 5 tahun ukuran otaknya telah mencapai ukuran sekitar 90% otak orang dewasa pertumbuhan otak selama masa awal anak-anak disebabkan oleh pertambahan jumlah dan ukuran urat syaraf yang berujung di dalam dan di antara daerah-daerah otak.
c.    Perkembangan motorik perkembangan fisik pada masa anak-anak ditandai dengan berkembangnya keterampilan motorik baik kasar maupun halus.

2.    Perkembangan Intelektual
Menurut Piaget, perkembangan kognitif pada usia ini berbeda pada periode praoperasional, yaitu tahapan dimana anak belum mampu menguasai operasi mental secara logis.  Periode ini ditandai dengan berkembangnya representasional, atau “symbolic function” yaitu kemampuan menggunakan sesuatu untuk mempresentasikan sesuatu yang lain dengan menggunakan simbol dapat juga dikatakan sebagai “semiotic function” atau kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk melambangkan sesuatu kegiatan, benda yang nyata atau peristiwa.

3.    Perkembangan Emosional
Pada usia 4 tahun anak sudah mulai menyadari akunya, bahwa akunya berbeda bukan aku (orang lain atau benda). Kesadaran ini diperoleh dari pengalamannya, bahwa tidak setiap keinginannya dipenuhi oleh orang lain atau benda lain. Bersamaan dengan itu, berkembang  pulau perasaan harga diri yang menuntut pangkuan dari lingkungannya. Jika lingkungannya tidak mengakui harga diri anak seperti memperlakukan anak secara keras atau kurang menyayanginya,  maka pada diri anak akan berkembang sikap-sikap keras kepala, atau menyerah menjadi penurut yang diliputi rasa harga diri kurang dengan sifat pemalu.
Bridges  menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak sebagai berikut:
a.         Pada saat dilahirkan setia bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan rangsangan tertentu (bunyi, cahaya, temperatur).
b.         Dalam periode tiga bulan pertama ketidaksenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan (melalui penularan) dari emosi orang tuanya.
c.         Dalam masa 3 sampai 6 bulan pertama ketidak kesenangan itu baru diferensiasi ke dalam kemarahan, kebencian, dan ketakutan.
d.        Sedangkan pada masa 9 sampai 12 bulan pertama kegembiraan berat diferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang.
e.         Pada usia 18 bulan, pertama kecemburuan mulai  didiferensiasi kan dari ketidak senangan tadi.
f.          Pada usia 2 tahun, kenikmatan dan keasyikan bardiferensiasi dari kesenangan.
g.          Mulai 5 tahun, ketidak kesenangan berdiferensiasi di dalam merasa malu, cemas, dan kecewa sedangkan kesenangan berat diferensiasi ke dalam harapan dan kasih sayang.[3]
Beberapa jenis perkembangan emosional pada masa kanak-kanak yaitu:
a.         Takut,  yaitu perasaan yang terancam oleh suatu objek yang dianggap membahayakan.
b.         Cemas,  yaitu perasaan takut yang bersifat khayalan, yang tidak ada objeknya.
c.         Marah,  yaitu perasaan tidak senang atau benci baik terhadap orang lain diri sendiri atau objek tertentu yang diwujudkan dalam bentuk verbal ( kata-kata kasar atau makian atau sumpah serupah) maupun nonverbal (seperti mencubit, memukul, menampar, menendang dan merusak).
d.        Cemburu, yaitu perasaan tidak senang terhadap orang lain yang dipandang telah merebut kasih sayang dari seseorang yang telah mencurahkan kasih sayang kepadanya.
e.         Kegembiraan, Kesenangan, Kenikmatan,  yaitu perasaan yang positif, nyaman, karena terpenuhi keinginannya.[4]

4.    Perkembangan Pengamatan dan Fantasi Ingatan
a.      Pengamatan
Kegiatan yang menggunakan alat-alat indra seperti perbuatan melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba adalah kegiatan mengamati. Bermacam-macam perangsang datang dari luar melalui alat indra  seperti gambaran penginderaan, gambaran fantasi, dan gambaran pengamatan. Anak-anak belum mampu membedakan itu hanya orang yang telah kritis yang dapat membedakan itu.
b.      Fantasi ingatan anak-anak.
Fantasi adalah hal yang berhubungan dengan khayalan atau dengan sesuatu yang tidak benar-benar ada dan hanya ada dalam benak atau pikiran saja yang tidak sesuai dengan kenyataan. Dengan kata lain fantasi adalah imajinasi. Berfantasi adalah kesanggupan jiwa membentuk tanggapan yang baru dengan pertolongan tanggapan yang telah ada. Anak-anak sangat luas dan leluasa fantasinya, artinya dapat membuat gambaran khayalan yang banyak dan luar biasa sehingga orang dewasa menganggapnya mustahil, misalnya sapu dan tongkat diciptakan menjadi kuda-kudaan kursi dibalikkan menjadi kereta.[5]

Secara umum,  jenis permainan anak dapat dikategorikan ke dalam tiga kelompok, yaitu:
1.      Permainan aktif,  dapat melatih aspek kognitif anak untuk belajar mengatur dan menentukan strategi dalam meraih kemenangan, serta mengasah aspek afektif anak untuk bersikap sportif dan belajar menerima kekalahan ketika ia mengalami kegagalan. Permainan ini biasanya melibatkan lebih dari satu orang anak.[6]
2.      Permainan pasif,  permainan ini biasanya dilakukan tanpa teman yang nyata, bentuk konkrit nya seperti bermain game di komputer.  dampak positif dari permainan ini adalah anak memiliki keterampilan tertentu yang bisa dijadikan suatu proses sehingga anak tersebut memiliki sebuah keahlian tertentu yang bermanfaat untuk kehidupannya kelak.  sedangkan sisi negatifnya adalah anak akan mengalami ketergantungan yang berlebihan apabila tidak diatur dan dibatasi oleh orang tuanya.  dalam kondisi tertentu ketergantungan terhadap permainan pasif bisa menghambat kreativitas anak. Anak menjadi kurang kreatif karena terbiasa dengan program yang sudah siap pakai.
3.      Permainan fantasi, merupakan permainan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh anak dalam dunianya. Permainan ini baik untuk kecerdasan otak kanan karena dengan sendirinya anak belajar berperan dengan berbagai karakter yang diciptakannya, merasakan sisi emosional tokoh-tokoh yang ada di dalam imajinasinya, serta lambat laun akan memahami nilai baik dan buruk sebuah sikap dan sifat. Namun sebaiknya anak diberikan ruang dan waktu untuk bermain secara berimbang antara permainan aktif, pasif dan  fantasi agar kecerdasan otaknya seimbang.[7]

c.    Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa anak usia prasekolah, berkembang secara cepat namun seorang anak bisa saja gagap ketika berusaha keras memberitahukan sesuatu kepada orang dewasa.  Karena mereka berfikir lebih cepat dari gerakan mulut untuk mengucapkan apa yang mereka inginkan. Lagi-lagi anak dapat merasa frustasi dan tertekan karena hal ini. Begitu cara mengucapkan dan tata  bahasa anak sudah mulai akurat karena akan senang membuat-buat kata-kata sendiri, serta membuat lelucon menggunakan kakata-kata. Hal tersebut dinamakan metalinguistics.[8]
a)         Masa (2,0-2,6)
1)   Anak sudah mulai dapat menyusun kalimat.
2)   Anak sudah memahami tentang perbandingan.
3)   Anak banyak menanyakan nama dan tempat: apa, di mana, dan dari mana.
4)   Anak sudah banyak menanyakan menggunakan kata-kata yang berawalan dan berakhiran.
b)        Masa (2,6-6,0)
1)   Anak  sudah menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya.
2)   Tingkat  anak sudah mulai maju, anak banyak menanyakan soal waktu-sebab akibat, melalui pertanyaan-pertanyaan kapan, kemana, mengapa, dan bagaimana.
Jean Piaget, ilmuwan bahasa perancis, meneliti perkembangan bahasa anak-anak dan cara berpikir anak-anak. Menurutnya bahasa dibagi menjadi dua, yaitu:
a.         Bahasa egosentris, adalah bentuk bahasa yang lebih menonjolkan keinginan dan kehendak seseorang.
b.        Bahasa sosial, adalah bentuk bahasa yang dipergunakan untuk berhubungan dengan orang lain.
d.   Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan sosial. Dapat juga diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi: meleburkan diri menjadi satu kesatuan saling berkomunikasi dan bekerjasama.
Perkembangan perilaku sosial anak ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman-teman dan meningkatnya keinginan yang kuat untuk diterima sebagai anggota suatu kelompok, dan merasa tidak puas bila tidak bersama teman-temannya.
Pada usia prasekolah (teriutama mulai usia 4 tahun), mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya. Tanda-tanda perkembangan sosial pada tahap ini adalah:
a.         Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik dilakukan keluarga yang maupun dalam lingkungan bermain.
b.         Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan.
c.         Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain.
d.        Anak mulai dapat bermain bersama anak-anak lain, atau teman sebaya atau (peer group).
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh iklim sosio-psikologis keluarganya. Apabila dilingkungan keluarga tercipta suasana yang harmonis, saling memperhatikan, saling membantu, (bekerja sama) dalam menyelesaikan tugas keluarga atau anggota keluarga terjalin komunikasi antar anggota keluarga, dan konsisten dalam melaksanakan aturan, maka anak akan memiliki kemampuan atau penyesuaian sosial dalam hubungan dengan orang lain.
Sifat-sifat kepribadian penting memilih teman. Anak yang lebih besar memberi nilai tinggi pada kegembiraan keramahan kerjasama kebaikan hati kejujuran kemurahan hati dan sportivitas menjelang masa kanak-kanak berakhir anak lebih menyukai teman dari latar belakang sosial ekonomi ras dan agama yang sama khususnya sebagai teman baik.
e.    Perkembangan Bermain
Yang dimaksud dengan kegiatan bermain di sini adalah suatu kegiatan yang dilakukan dengan kebebasan batin untuk memperoleh kesenangan. Secara psikologis dan pedagogis, bermain mempunyai nilai-nilai yang sangat berharga bagi anak, diantaranya:
a.         Anak memperoleh perasaan senang.
b.         Anak  dapat mengembangkan sikap percaya diri, tanggung jawab, kooperatif (bekerja sama).
c.         Anak  dapat mengembangkan daya fantasi atau kreativitas.
d.        Anak  dapat mengembangkan sikap sportif, tenggung rasa dan toleran terhadap orang lain.
e.         Anak  dapat mengenal aturan, atau norma yang berlaku dalam kelompok serta belajar untuk mendekatinya.
f.     Perkembangan Moral
Pada masa ini, anak sudah memiliki dasar moralitas terhadap kelompok sosialnya (orang tua, saudara dan teman sebaya). Melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain. Anak belajar memahami tentang kegiatan atau perilaku mana yang baik dan tidak baik. Berdasarkan pemahaman itu maka pada saat ini anak harus dilatih atau dibiasakan mengenai bagaimana dia harus bertingkah laku.
Pada saat mengenalkan baik-buruk, benar-salah dan sebagainya, orangtuanya atau guru hendaknya memberikan penjelasan tentang alasannya. Penanaman disiplin dengan disertai alasan ini diharapkan, akan mengembangkan kemampuan mengendalikan diri atau men disiplinkan diri berdasarkan kesadaran sendiri pada anak.[9]
g.    Perkembangan Kesadaran Beragama
Biasanya sebelum umur kurang lebih 4 tahun anak belum menyadari benar perasaan Ketuhanan (keberagamaan). Tuhan bagi anak masih dalam fantasia tau gambarannya disamakan seperti makhluk/manusia lainnya. Oleh karena itu pengembangan perasaan ketuhanan anak mulai dapat dimulai dari tanggapan dan bahasa anak. Mula-mula anak akan selalu kagum pada orang tuanya y ang selalu sayang dan mencintainya. Hal tersebut penting untuk pembinaan kejiwaan anak, untuk kemudian anak dibawa pada pemahaman, kekaguman  pada yang lebih syang lagi, Maha kasih, Maha sayang yakni Allah swt.[10]
Kesadaran beragama pada usia ini ditandai dengan ciri-ciri :
a.    Sikap keagamannya bersifat represif (menerima) meskipun banyak bertanya.
b.    Pandangan ketuhanannya bersifat anthro pormorph (dipersonifikasi).
c.    Penghayatan secara rohaniyah  masih superficial (belum mendalam) meskipun mereka telah melakukan atau berpartisipasi dalam berbagai kegiatan ritual.
d.   Hal ketuhanan dipahamkan secara ideosyncrificial (menurut khayalan pribadinya) sesuai dengan taraf berpikirnya yang masih bersifat egosentrik (memandang segala sesuatu dari sudut dirinya.[11]


B.     Fase Anak Sekolah (Usia Sekolah Dasar)
Banyak ahli mengganggap masa ini adalah masa tenang atau masa latent, dimana apa yang telah terjadi dan dipupuk pada masa-masa sebelumnya akan berlangsung secara terus untuk masa-masa selanjutnya. Dengan memasuki SD, salah satu hal penting yang dimiliki anak adalah kematangan sekolah yang meliputi kecerdasaan dan keterampilan motoric,bahasa,tetapi juga hal lain seperti dapat menerima otoritas tokoh lain di luar orang tuanya, kesadaran akan tugas dan patuh akan peraturan. Ada pun perkembangan yang terjadi pada masa anak sekolah antara lain:

1.      Perkembangan Intelektual
Pada masa anak sekolah kemampuan intlektual sudah cukup untuk menjadi dasar di berikanya berbagai kecakapan yang dapat mengembangankan pola pikir pada anak sudah dapat diberikan dasar-dasar keilmuan seperti menulis, membaca dan menghitung di samping itu anak juga di berikan pengetahuan tentang manusia, hewan, lingkungan alam dan sebagainya.
Dalam mengembangakan kemampuan anak sekolah dalam hal ini guru memeberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakakan pertanyaan, memberikan komentar atau pendapat tentang materi yang dijelaskan pada guru.

2.      Perkembangan Bahasa
Pada usia sekolah dasar merupakan masa berkembanganya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata. Pada awal masa ini sudah menguasai sekitar 2.500 kata dan pada masa akhir telah dapat menguasai sekitar 50.000 kata.
Faktor yang memepengaruhi perkembangan bahasa:
a.    Proses jadi matang, dengan perkataan lain anak itu menjadi matang (organ-organ suara) / bicara sudah berfungsi) untuk berkata-kata.
b.    Proses belajar berarti anak ini lebih matang untuk berbicara lalu memepelajari bahasa orang lain dengan meniru ucapan atau kata-kata yang di dengarnya.
     Kedua proses ini berlangsung sejak bayi dan anak-anak hingga pada usia anak-anak memasuki usia dasar, anak tersebut sudah sampai tingkat kalimat yang lebih sempurna.[12]
3.      Perkembangan Pengamatan dan Fantasi
Sejak anak berumur 5/6 tahun, perhatianya mulai ditunjukan ke dunia luar, ke alam kenyataan. Fantasi yang senantiasa hidup itu akan mencari lapangan penyaluran seperti hiburan membaca buku, mendengarkan cerita,membuat sesuatu dan sebagainya.
a.       Beberapa masa fantasi:
1.        Masa dongeng (4-8tahun). Masa ini adalah masa dimana mulai dalam anak suka dalam mendengarkan cerita-cerita.
2.        Masa robins oncrusou (8-12). Masa ini anak mulai tidak menyukai lagi apa yang namanya dongeng yang tidak masuk akal, namun anak tersebut mulai menyukai cerita yang benar-benar terjadi.
3.        Masa pahlawan (12-15). Masa ini anak suka membaca buku-buku perjuagan, karya orang-orang kenamaan yang pernah terjadi.
b.      Beberapa nilai fantasi:
1.      Fantasi dapat di gunakan sebagai hiburan
2.      Fantasi dapat memudahkan anak dalam menerima pelajaran
3.      Fantasi membentuk budi pekerti anak. Bila ia membaca atau menonton film yang baik-baik, ia akan terdorong meniru danberbuat seperti yang dibaca atau yang ditonton itu.
c.       Keburukan berfantasi:
1.      Anak sering tenggelam kedalam dunia fantasinya, seperti ia suka melamun.
2.      Anak takut menghadapi kenyataan, seperti menjadi orang yang pemalu atau menjadi seorang pembual dikalangan teman-temanya.
4.      Perkembangan sosial
Pada perkembangan sosial meliputi perkembangan hubungan anak dengan orang di sekitarnya. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisidan moral (agama). Perkembangan social pada anak ditandai dengan adanya perluasan hubungan, disamping dengan keluarga diamulai membentuk hubungan dengan teman sebaya. Pada usia ini anak mulai memiliki kesaggupan menyesuaikan dirinya dengan kelompok, teman sebaya maunpun dengan lingkungan masyarkat sekitarnya. Dalam proses belajar di sekolah, kematangan perkembangan social ini dapat di manfaatkan dengan memeberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuh kantenaga fisik (membersihkan kelas dan halaman), maupun tugas yang membutuhkan pikiran (merncanakan kegiatan camping, membuat laporan stadituor, diskusi).[13]
5.      Perkembangan Perasaan atau Emosional Anak
Anak-anak memiliki prasaan yang lebih kuat pengaruhnya di bandingkan dengan perasaan orang dewasa. Anak sekolah lekas merasa puas, tampaknya mereka selalu gembira jarang sekali mereka menyesali perbuatan mereka yang telah dilakukan. Mereka belum mampu turut merasakan kesusahan orang lain.
a.    Perasaan intelektual, perasaan ini adalah perasaan yang menyertai perbuatan berfikir. Perasaan intelek erat hubunganya dengan dapat tidaknya menyelesaikan soal-soal matematika, ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan social dan sebagainya.
b.    Perasaan seksual, sebelum mereka mencapai umur 12 tahun, perasaan seksualnya belum berkembang, baik perkembangan jasmani maunpun rohaninya pun belum jelas.
c.    Perasaan keindahan, perasaan ini yang timbul ketika individu menghayati sesuatu yang ada hubunganya dengan indah atau pun buruk. Untuk dapat menetukan mana yang indah dan buruk di perlukan alat ukur yang di sebut “ cita rasa “. Dalam hal ini pembawaan dan factor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan“ perasaan keindahan “ pada anak sekolah.
d.   Perasaan ke-agamaan, perasaan yang menyertai individu ketika menghayati hubunganya dengan tuhan. Perasaan ke-agamaan termasuk bentuk perasaan yang luhur dalam jiwa manusia perasaan kegamaan menggerakan hati manusia agar ia melakukan perbuatan-perbuatan yang baik.[14]

6.      Perkembangan Moral
Di masa ini anak mulai mengenal benar salah atau baik buruk pertama kali daril ingkungan keluarga. Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti kegiatan atau tuntutan dari orang tua atau tuntutan sekitranya. Masa perkembangan moral pada diri anak mengalami beberapa tingkatan sebagai berikut:
1.    4-8 tahun, ukuran tata nilai bagi anak adalah sesuatu yang tampak.
2.    8-13 tahun, anak sudah mulai dapat menghargai pendapat atau alas an dari orang lain.[15]

7.      Perkembangan Penghayatan Keagamaan
Di tandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a)    Sifat keagamaan bersifat preseftif di sertai dengan pengertian.
b)   Pandangan dalam paham ketuhanan di perolehnya secara akal beradasarkan kaidah-kaidah logika yang berpedoman pada indicator alam semesta sebagai manifestasi dari keangungNYA.
c)    Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, pelaksanaan kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.[16]


8.      Perkembangan Motorik
Seiring perkembangan fisiknya yang beranjak matang, maka perkembangan motorik ini sudah ter-koordinasi dengan baik. Setiap gerakanya sudah selaras dengan kebutuhanya. Oleh karena itu usia ini merupakan masa yang ideal untuk belajar ketarampilan yang berkaitan dengan motoric seperti menulis, membaca, menendang, berenang dan lainnya.[17]












[1] Singgih D. Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan remaja (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2008) hlm. 11-12.
[2] Yudrik Jahja, Psikologi Perkembangan (Jakarta: PT. Kharisma Putra Utama, 2001) hlm. 184.
[3] Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM,  2018) hlm.141-143.

[4] Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM,  2018) hlm.144.

[5] Zulkifli L, Psikologi Perkembangan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002) hlm. 33.
[6] Ibid,. Rahmi Anekasari, hlm. 144-145.

[7] Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM,  2018) hlm. 145-146.
[8] Carolyn Meggit, Memahami Perkembangan Anak (Jakarta: PT. Indeks), hlm. 128.
[9] Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM,  2018) hlm.148-152.
[10] Sugeng Sholehudin, Psikologi Perkembangan Dalam Prespektif Pengantar (Pekalongan: Gama Media, 2008) hlm. 116
[11]   
[12] Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM,  2018) hlm.153-154.

[13] Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM,  2018) hlm. 154- 156.
[14] Zulkifli L, Psikologi Perkembangan (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002) hlm.59- 61.
[15] Sugeng Sholehudin, Psikologi Perkembangan Dalam Prespektif Pengantar (Pekalongan: Gama Media, 2008) hlm. 116
[16] Rahmi Anekasari, Psikologi Perkembangan Bacaan Wajib (Calon) Orang Tua, Guru dan Dosen (Pemalang: NEM,  2018) hlm. 154-160


Tidak ada komentar:

Posting Komentar